[go: up one dir, main page]

Oase

Mendengar kata oase, pasti kita membayangkan suatu tempat di tengah padang pasir yang kontras dengan lingkungan sekitarnya. Oase adalah tempat berteduh, melepas lelah bagi para penjelajah padang pasir, karena oase memiliki sumber air dan pepohonan yang bisa hidup di lingkungan keras gurun.

Sering dalam perjalanan berat, kita berharap menemukan oase. Dalam perjalanan darat antar kota yang panjang dan melelahkan, ketika tiba di perhentian, kita mendapat kesempatan melepas lelah. Apalagi jika tempantnya nyaman seperti perhentian tol yang mulai banyak di temukan di jalan tol antara kota Jakarta Bandung (Cipularang). Demikian juga dengan jalan tol Jakarta Merak, selepas pintu Karang Tengah, sudah ada tempat perhentian yang cukup ramai dan meriah. Lain halnya dalam perjalanan seperti Pantura, tempat perhentian dapat kita tentukan sendiri di setiap kota yang kita lewati.

Dalam perjalanan hidup, kita juga sering berharap menemukan oase-oase yang rindang, yang mampu memberi keteduhan kala kita lelah, dahaga, maupun sekadar untuk menenangkan pikiran. Ada banyak oase (dalam tanda petik) yang terhampar di depan kita, jika kita mau melayangkan pandangan ke sekeliling kita. Bagi yang sudah berkeluarga, tentu saat berkumpul kembali setelah seharian bekerja akan merupakan suatu keteduhan. Bagi yang religius, ibadah adalah oase yang terpenting, karena saat-saat itulah keteduhan dan kedamaian yang sesungguhnya kita rasakan. Bagi yang suka pergaulan, berkumpul bersama kawan-kawan di tempat-tempat hang-out tentu juga merupakan pelepas dahaga akan rutinitas keseharian (selama itu merupakan hiburan sehat tentunya).

Saya pribadi merasakan oase saya pada keluarga. Berkumpul dan bermain bersama anak-anak adalah kesempatan untuk melepas kelelahan setelah seharian bertempur dengan tumpukan pekerjaan sehari-hari. Suatu ketika saat saya masih bekerja pada sebuah perusahaan multinasional. Saat itu, atasan saya di kantor regional menawarkan posisi yang menarik untuk menangani proyek di Bangkok, Thailand. Akan ada banyak perjalanan dinas, baik ke Bangkok mapun ke Singapura dan Kuala Lumpur. Sebenarnya pekerjaan itu cukup menantang saya dan itu juga merupakan kesempatan untuk mengejar karir going abroad. Namun saat itu saya juga sedang merintis usaha yang saya jalani saat ini. Disamping itu, meminjam istilah Robin Williams di film Mrs. Doubtfire, saya “kecanduan” anak saya, karena itulah oase saya. Keputusan yang amat sulit harus saya ambil. Akhirnya saya memilih dekat dengan oase. Nyatanya, keputusan yang tadinya saya kira bukan keputusan terbaik, akhirnya cukup memuaskan. Usaha yang saya rintis berkembang karena saya akhirnya terjun full time. Dan yang terpenting, setiap hari saya tetap dapat menjumpai oase saya, sampai saat ini.

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai