Jing…
4 Januari 2016 Tinggalkan komentar
Kami biasa saling memanggil “Jing.” Mungkin ini tampak kasar dan tak berbudaya bagi banyak orang. Tapi saya dan Ign. Freddy Sastrawidjaja sudah sejak jaman kuliah saling memanggil seperti itu, kepanjangan dari kata “Anjing.” Ini bukan makian, tapi lebih kepada kedekatan persahabatan yang sudah seperti saudara. Kawan-kawan yang lain memanggilnya dengan sapaan akrab “Black” oleh karena dia memang hitam. Tidak bermaksud rasis, karena toh dia bukan keturunan Afro. Yang jelas, karena sudah melekat dengan nama Black, tand- tangannyapun merupakan anagram dari kata tersebut.
Black selalu menjadi tumpuan kami untuk titip absen semasa kuliah, karena ia yang paling rajin dan tepat waktu untuk mengikuti semua kelas. Kadang bahkan kami cuma duduk-duduk di koridor saja di depan kelas, sedangkan Black dengan rajinnya mengikuti kuliah. Black juga menjadi seperti maskot bagi kelompok kami, karena ia cocok dengan slogan “kalo gak ada loe gak rame!” Jokes nya selalu segar, bahkan suka keterlaluan kalo meledek orang lain, tapi ia juga tidak pernah marah kalo diledek balik.
Siang menjelang jam 12 tanggal 29/12/2015, saya dikejutkan oleh pesan WA dari Kardiyanto – teman ex Binus 89 juga – , “Rud, teman kita Freddy sudah kembali ke Surga.” Berita itu sungguh mengejutkan, karena baru empat hari sebelumnya saat Natal seperti biasa, Black selalu broadcast ucapan selamat Natal dari dua account BBM nya. Bahkan beberapa hari sebelum Natal, pun ia masih mengomentari foto-foto Instagram istri saya. Saya segera mencari kabar sekaligus juga menyebarkan kabar itu ke semua teman ex Binus 89. Benar, Black berpulang saat liburan Natal dan Tahun Baru di Puncak bersama keluarganya.
Sore itu juga pukul 4, saya segera meluncur ke Rumah Duka Husada, mencari-cari diantara beberapa ruang, dan menemukannya saat baru saja jenazahnya selesai masuk ke dalam peti tempat istirahat terakhirnya. Bertemu istrinya yang sedang memeluk kedua putra kembarnya yang menangis begitu sedih, sayapun tak kuat menahan air mata. Saya terduduk di sebuah kursi lipat dengan air mata yang mengalir deras tak tertahankan. “Jing…. Kenapa begitu cepat elo pergi?”
Ada banyak malam minggu saya habiskan berdua dengannya. Nongkrong di Dunkin Donuts Hayam Wuruk sambil nonton balapan liar, lalu pulang, begadang di kamarnya yang sempit di rumah neneknya di kawasan gang Talib. Obrolan tidak pernah kehabisan bahan, bahkan sampai salah satu dari kami jatuh tertidur, biasanya menjelang jam 4 subuh. Kadang acara begadang bertambah pesertanya dengan Fredy Winata, kadang juga Foondas atau Djoni. Tetapi biasanya yang menginap cuma saya. Jika sedang bosan begadang, biasanya dari pagi hingga sore, kami menghabiskan waktu di Dunkin Petojo. Bukan karena kami penggemar fanatik donat, tetapi lebih karena tempatnya yang menurut kami sangat nyaman.
Ketika suatu kali karena masalah jantung – penyakit ini juga yang merenggut nyawanya – ia harus dirawat di rumah sakit Sumber Waras, kami sudah sangat kawatir, tetapi ia berhasil sembuh waktu itu. Lalu ketika hampir semua teman sudah menikah, Black masih lajang dan lebih banyak waktu dihabiskannya di Gereja BHK Kemakmuran bersama Mudika dan para Romo. Ketika akhirnya dia menikah, saya malah tidak bisa hadir karena tugas di Banjarmasih. Saya berusaha mengubah jadwal pesawat kembali ke Jakarta supaya bisa hadir di pestanya, tetapi tetap tidak terkejar. Akhirnya yang hadir istri dan ibu saya. Keduanya memang mengenal dekat Black. Setahun kemudian, putra kembarnya lahir, dan untungnya saya bisa hadir.
Suatu ketika, saat saya memutuskan untuk menjadi Katholik, Black adalah orang pertama yang mendukung saya dan bahkan bersedia menjadi Bapa Baptis saya, meskipun ia sedikit lebih muda. Ben, putra pertama sayapun ber-Bapa Baptis pada Om Black. Tetapi jangan mengira Black sebagai orang puritan dan fanatis. Ia memang seorang Katholik taat, tetapi tidak akan pernah memberikan wejangan-wejangan ataupun kutipan dari Alkitab. Kadang, saat misa, saya menemukannya duduk-duduk mengobrol dengan tukang parkir. Menurutnya, jika hatinya sedang tidak ingin mengikuti ibadah, ia tidak ingin menjadi munafik yang harus selalu hadir dalam Gereja. Untuk hal ini, ia tidak sepaham dengan saya.
Black adalah typical ordinary man yang tidak pernah berpikir terlalu rumit, berusaha mengejar berbagai prestasi. Baginya, setelah lulus kuliah, ia bisa bekerja kantoran, menerima gaji bulanan dan menghidupi keluarganya. Sudah itu saja. Tak pernah ia berambisi untuk menjadi seorang yang menonjol. Kuliahnyapun diselesaikannya dengan susah payah, bukan masalah nilai, tetapi lebih kepada kemampuannya untuk membayar kuliah. Seringkali kami harus urunan untuk membayar uang semesternya, yang kemudian dicicilnya kepada kami tiap bulan dari gajinya yang tidak seberapa. Akibatnya, ia harus mengorbankan makan siangnya hanya dengan teh celup.
Begitu banyak kenangan bersama Black. Itu yang membuat saya sulit untuk menahan air mata. Sekarang dia sudah kembali ke Rumah Bapa, menyusul ayah dan adiknya yang telah lebih dulu berpulang. Selamat jalan saudaraku, sahabatku dan Bapa Baptisku, Tuhan pasti menerimamu di Kerajaan-Nya.


Saat ini, Big Data merupakan salah satu isu yang paling banyak dibicarakan baik di dunia teknologi informasi maupun berbagai bidang manajemen, seperti yang saya temukan dalam buku terbaru Hermawan Kartajaya, WOW Marketing (buku yang sangat bagus!). Sebagai seorang yang sudah bertahun-tahun bekerja di bidang teknologi informasi, tentunya yang paling menarik perhatian saya adalah sisi teknologinya. Berbagai buku, whitepapers maupun e-book saya buru untuk mendapatkan pengertian mendasar, apakah Big Data itu, apa bedanya dengan Data Warehousing yang sudah saya kenal selama ini?
Apakah profesionalisme dibentuk oleh pengalaman, atau memang sudah merupakan karakter dari seseorang? Seringkali pertanyaan seperti itu hinggap dalam pemikiran mengenai pengembangan karir. Tentu saja, profesionalisme sangat menentukan dalam karir seseorang, terutama jika perusahaan tempatnya berkarya memahami dan menghargai profesionalisme.
Ketika membuka-buka contact list pada aplikasi Whatsapp di ponsel android saya, saya tertawa sendiri melihat avatar sahabat saya, Dr. Hanadi. Di situ tertulis ‘think outside the box’ dengan gambar permainan tic tac toe yang ‘maksain banget’. Sebenarnya, jargon ini sudah menjadi semboyan banyak orang sejak lama, namun memraktekkannya bukanlah hal yang sederhana. Penyebabnya, karena kita sudah terbiasa hidup dalam pakem yang dibentuk oleh rutinitas sehari-hari. Tengok saja, hampir setiap orang punya ritual pribadi saat bangun tidur pada pagi hari. Saya sendiri bahkan tidak menyadari ritual ini, karena sudah menjadi habit, kalau diingat urutannya, jadinya malah bingung sendiri. Pukul 6 pagi saya bangun, langsung lanjut ke toilet untuk melakukan ritual mandi, sikat gigi dan sebagainya. Pukul 6.45, saya sudah di meja sarapan, sambil membaca buku, dan pukul 8.15 saya sudah berkendara menuju ke kantor. Walaupun kadang-kadang berubah, seperti ketika istri saya bertugas ke luar negeri, maka di antara waktu tersebut harus saya selingi dengan mengantar anak-anak ke sekolah, tetapi pada akhirnya saya kembali ke rutinitas semula yang sudah saya jalani berpuluh tahun. Bahkan, bentuk sarapan saya, yaitu roti dan kopi instan sudah menjadi menu tetap sejak saya SD.
Tulisan ini tidak bermaksud untuk membandingkan, antara menjadi karyawan atau pengusaha, tetapi lebih melihat dari dalam diri seorang dalam menjalankan usahanya sehari-hari. Ya, ini mengenai kehidupan pengusaha. Seseorang akan disebut pengusaha apabila ia memiliki bisnis sendiri, terlepas dari skalanya, apakah ia hanya seorang pedagang bakso yang memiliki gerobak sendiri, membeli bahan, memasak dan menjualnya juga sendiri, ataupun seorang konglomerat property yang memiliki berbagai proyek property senilai triliunan. Sebaliknya seseorang tetaplah karyawan, terlepas dari apakah dia hanya seorang OB atau CEO. Jika ia memiliki saham perusahaan tersebut, maka mulailah ia bisa disebut pengusaha. Tentunya, kepemilikan ini berbeda jika kita hanya punya beberapa lot saham dari pasar sekunder yang dipergunakan hanya untuk mendapatkan penghasilan spekulatif bursa.