Pengorbanan Quotes
Quotes tagged as "pengorbanan"
Showing 1-13 of 13
“kini dia berusaha menerjemahkan cinta ke arah yang berbeda. Cinta yang mendahulukan kebahagiaan orang yang dikasihi, bukan cinta yang semata ingin memiliki. Sekalipun untuk itu, dia harus membayarnya dengan kesepian dan rasa kehilangan sepanjang hidupnya.”
― Luv: Untuk Cinta Yang Selalu Menunggu
― Luv: Untuk Cinta Yang Selalu Menunggu
“Selembar setangan memang remeh, tak sepadan dengan buku apalagi pistol, tetapi setidaknya ia bisa membasuh peluh di wajahmu. Ia juga bisa menyeka darah yang menderas di hidungmu karena ditinju polisi rahasia. Dan barangkali kelak, ia akan mengingatkanmu kepada diriku.”
― Tan: Gerilya Bawah Tanah
― Tan: Gerilya Bawah Tanah
“Masih menjadi pertanyaan dalam kepalaku. Apa saja yang harus dilalui untuk sampai pada cinta yang setaraf Bandung Bondowoso, Sangkuriang atau Shah Jahan”
― Just in Love
― Just in Love
“Aku kini meninggikan kepalaku ke atas seteru
yang mengelilingu aku.
Dan dalam jagaan Allah,
aku ingin berkorban kepada-Nya tanda syukurku.
(Mazmur XXIX)”
― Puisi: Nyanyian Mazmur
yang mengelilingu aku.
Dan dalam jagaan Allah,
aku ingin berkorban kepada-Nya tanda syukurku.
(Mazmur XXIX)”
― Puisi: Nyanyian Mazmur
“Kadangkala, Cinta itu seperti embun.
Dia ada saat pagi, namun menghilang disaat siang.
Begitu pula dengan Cinta.
Terasa indah saat pertama, namun setelah sekian lama Cinta semakin pudar...”
―
Dia ada saat pagi, namun menghilang disaat siang.
Begitu pula dengan Cinta.
Terasa indah saat pertama, namun setelah sekian lama Cinta semakin pudar...”
―
“Untuk jadi pemimpin besar memang harus mengalami banyak ujian terlebih dulu, sehingga bisa bersikap rendah hati dan melayani orang lain. Pemimpin harus mau berkorban dan bekerja keras. Nilai-nilai kepemimpinan ini ada di seluruh dunia.”
― Man's Defender
― Man's Defender
“Jika Anda tidak berkorban untuk apa yang Anda inginkan, apa yang Anda inginkan menjadi pengorbanan.”
―
―
“Perempuan yang Dulu Kau Kejar Hanya untuk Kau Lukai”
Buat para lelaki:
Apakah kau benar-benar sudah memahami istrimu? Ia bukan sekadar perempuan yang menunggumu pulang, meski tanganmu hampa dan dompetmu kosong. Ia bukan sekadar tubuh yang letih mengurus rumah, atau wajah yang perlahan kehilangan cahaya mudanya. Ia adalah doa yang tak pernah berhenti menyebut namamu, bahkan ketika kau tertidur lelap dan melupakan segalanya. Ia adalah keberanian yang meninggalkan kenyamanan tempat tinggal orang tuanya, menukar kepastian dengan harapan, hanya demi satu keyakinan, karena ia mencintaimu.
Ia memintal mimpi dengan air matanya, menyalakan bara ketabahan dengan jiwanya, dan menaruh seluruh hidupnya dalam genggaman tanganmu—meski kau sendiri sering tak tahu bagaimana harus menjaganya. Dialah yang mempertaruhkan hidupnya demi melahirkan darah dagingmu, dialah yang mengorbankan hidup dan waktunya demi membesarkan keturunanmu. Dialah tangan yang membersihkan rumahmu, hati yang menjaga marwahmu, pelita yang menuntunmu pulang.
Ironisnya, justru dialah orang yang paling sering kau abaikan. Dialah yang paling sering kau sakiti dengan sikap diam-mu, acuh tak acuhmu dan ketidakpedulianmu. Ia yang dulu kau kejar dengan segala kerinduan, kini kau anggap biasa saja—tak lagi istimewa, tak lagi bernilai. Padahal yang ia harapkan bukan istana, bukan harta berlimpah, melainkan hal yang sederhana: perhatian yang tulus, rasa aman, kasih sayang yang hangat.
Tragisnya, engkau lupa bahwa cinta adalah bara yang harus dijaga, api yang harus diperbaharui. Engkau biarkan apinya padam, lalu kau salahkan ia ketika rumah tangga menjadi dingin. Engkau tak sadar, luka yang ia simpan bukan karena tubuhnya berubah menjadi gemuk, bukan karena kecantikannya pudar, melainkan karena pengorbanannya tak lagi berarti bagimu. Engkau telah meruntuhkan marwah seorang istri, menukar air matanya dengan penyesalan, menukar pengabdiannya dengan kehampaan.
Jangan salahkan dia bila akhirnya ia memilih pergi. Ia pergi bukan karena lelah mencintai, melainkan karena tak ada lagi cinta untuk dipertahankan. Ia tinggalkan rumah yang ia bangun dengan air mata, ia lepaskan kenangan yang ia ikat dengan harapan. Dan yang tragis, kau tak kehilangan sekadar seorang istri—kau kehilangan perempuan yang dulu rela menyerahkan segalanya untukmu, bahkan hidup dan kehormatannya.
Mengapa lelaki begitu pandai mengejar, namun begitu ceroboh menjaga? Dahulu, ia rela menembus hujan dan badai demi seulas senyum; kini, sekadar menatap mata istrinya saja ia sudah enggan. Mata yang dulu ia puja, jernih bagai telaga tempat ia merendam dahaga cintanya, kini dibiarkannya berkabut oleh air mata. Tidakkah ia sadar, setiap tetes air mata istrinya adalah patahan kecil dari marwahnya sendiri?
Lelaki sering kali lupa, bahwa cinta yang diperjuangkan dengan susah payah bisa hilang hanya karena lalai memeliharanya. Betapa ironis—mereka berlari mengejar bunga saat kuncup, namun berpaling saat bunga itu mekar, seakan keindahan tak lagi berarti ketika sudah berada dalam genggaman.
Perempuan menangis bukan karena lemah, melainkan karena hatinya penuh dan meluap oleh perasaan yang tak sanggup ia bendung lagi. Ia menangis bukan karena kehilangan cinta, tapi karena cinta yang ia beri setulus hati tak lagi dipandang berarti. Apa yang lebih menyakitkan bagi seorang istri selain disamakan dengan rutinitas? Diseret dalam hari-hari yang hampa tanpa lagi ada rasa kagum, tanpa lagi ada ucapan sederhana: “Sayang, aku sangat mencintaimu...”
Dan beginilah tragedi buruk para istri: lelaki sibuk mencari kebahagiaan di luar rumah, padahal perempuan yang paling ia sakiti susah payah menjaga api kebahagiaan itu tetap menyala. Sementara lelaki mengira, kejayaan ada pada dunia luas yang ingin ia taklukkan. Padahal, kedamaian terbesar ada di pangkuan istrinya yang terus menunggu dengan setia, entah sampai kapan?
Semarang, September 2025”
―
Buat para lelaki:
Apakah kau benar-benar sudah memahami istrimu? Ia bukan sekadar perempuan yang menunggumu pulang, meski tanganmu hampa dan dompetmu kosong. Ia bukan sekadar tubuh yang letih mengurus rumah, atau wajah yang perlahan kehilangan cahaya mudanya. Ia adalah doa yang tak pernah berhenti menyebut namamu, bahkan ketika kau tertidur lelap dan melupakan segalanya. Ia adalah keberanian yang meninggalkan kenyamanan tempat tinggal orang tuanya, menukar kepastian dengan harapan, hanya demi satu keyakinan, karena ia mencintaimu.
Ia memintal mimpi dengan air matanya, menyalakan bara ketabahan dengan jiwanya, dan menaruh seluruh hidupnya dalam genggaman tanganmu—meski kau sendiri sering tak tahu bagaimana harus menjaganya. Dialah yang mempertaruhkan hidupnya demi melahirkan darah dagingmu, dialah yang mengorbankan hidup dan waktunya demi membesarkan keturunanmu. Dialah tangan yang membersihkan rumahmu, hati yang menjaga marwahmu, pelita yang menuntunmu pulang.
Ironisnya, justru dialah orang yang paling sering kau abaikan. Dialah yang paling sering kau sakiti dengan sikap diam-mu, acuh tak acuhmu dan ketidakpedulianmu. Ia yang dulu kau kejar dengan segala kerinduan, kini kau anggap biasa saja—tak lagi istimewa, tak lagi bernilai. Padahal yang ia harapkan bukan istana, bukan harta berlimpah, melainkan hal yang sederhana: perhatian yang tulus, rasa aman, kasih sayang yang hangat.
Tragisnya, engkau lupa bahwa cinta adalah bara yang harus dijaga, api yang harus diperbaharui. Engkau biarkan apinya padam, lalu kau salahkan ia ketika rumah tangga menjadi dingin. Engkau tak sadar, luka yang ia simpan bukan karena tubuhnya berubah menjadi gemuk, bukan karena kecantikannya pudar, melainkan karena pengorbanannya tak lagi berarti bagimu. Engkau telah meruntuhkan marwah seorang istri, menukar air matanya dengan penyesalan, menukar pengabdiannya dengan kehampaan.
Jangan salahkan dia bila akhirnya ia memilih pergi. Ia pergi bukan karena lelah mencintai, melainkan karena tak ada lagi cinta untuk dipertahankan. Ia tinggalkan rumah yang ia bangun dengan air mata, ia lepaskan kenangan yang ia ikat dengan harapan. Dan yang tragis, kau tak kehilangan sekadar seorang istri—kau kehilangan perempuan yang dulu rela menyerahkan segalanya untukmu, bahkan hidup dan kehormatannya.
Mengapa lelaki begitu pandai mengejar, namun begitu ceroboh menjaga? Dahulu, ia rela menembus hujan dan badai demi seulas senyum; kini, sekadar menatap mata istrinya saja ia sudah enggan. Mata yang dulu ia puja, jernih bagai telaga tempat ia merendam dahaga cintanya, kini dibiarkannya berkabut oleh air mata. Tidakkah ia sadar, setiap tetes air mata istrinya adalah patahan kecil dari marwahnya sendiri?
Lelaki sering kali lupa, bahwa cinta yang diperjuangkan dengan susah payah bisa hilang hanya karena lalai memeliharanya. Betapa ironis—mereka berlari mengejar bunga saat kuncup, namun berpaling saat bunga itu mekar, seakan keindahan tak lagi berarti ketika sudah berada dalam genggaman.
Perempuan menangis bukan karena lemah, melainkan karena hatinya penuh dan meluap oleh perasaan yang tak sanggup ia bendung lagi. Ia menangis bukan karena kehilangan cinta, tapi karena cinta yang ia beri setulus hati tak lagi dipandang berarti. Apa yang lebih menyakitkan bagi seorang istri selain disamakan dengan rutinitas? Diseret dalam hari-hari yang hampa tanpa lagi ada rasa kagum, tanpa lagi ada ucapan sederhana: “Sayang, aku sangat mencintaimu...”
Dan beginilah tragedi buruk para istri: lelaki sibuk mencari kebahagiaan di luar rumah, padahal perempuan yang paling ia sakiti susah payah menjaga api kebahagiaan itu tetap menyala. Sementara lelaki mengira, kejayaan ada pada dunia luas yang ingin ia taklukkan. Padahal, kedamaian terbesar ada di pangkuan istrinya yang terus menunggu dengan setia, entah sampai kapan?
Semarang, September 2025”
―
“LITANI DARI KAYU SALIB
Aku mendengar getar nadi yang berdenyut dari tangannya,
menjadi aliran yang memaksa paru-paruku berdetak dalam ritme kematian yang menyesakkan,
setiap tetes darahnya adalah tarian bisu yang membakar sarafku,
menembus semua ruang
yang sebelumnya
tak ada.
Di bawah kayu itu, ia tidak menjerit.
menahan segala sakit
yang tak terlukiskan,
mengalirkan dera itu ke setiap urat,
ke setiap tulang,
hingga aku sendiri menjadi daging
dan darahnya,
hingga aku sendiri menjadi luka
dan air mata yang tak berbentuk.
Aku melihat dan merasakan:
kehidupan dan kematian menyatu dalam batas yang bukan jurang.
Manusia tidak lagi berdiri di luar kesadaran selain kebebalan dan kedegilan jiwanya sendiri.
Dia menatapku dari mata yang remuk,
tetapi menatap dengan kornea yang seterang matahari
dengan sunyi yang lebih menyengat
dari semua api.
Aku merasakan setiap pilihan yang harus ia tanggung,
setiap penderitaan yang ditahan tanpa suara,
setiap kesadaran yang menolak mundur
mengajarkanku bahwa melihat luka tak pernah cukup—
kau harus menjadi luka itu sendiri,
kau harus menjadi denyut darah yang sama,
kau harus menjadi sunyi yang menembus tulang dan saraf.
Tidak ada belas kasihan, tidak ada pengampunan.
Hanya kesadaran murni, tanpa bentuk, tanpa kata,
menjadi api yang menyambar,
menjadi gelap yang merangkul,
menjadi nadi yang memaksa jiwaku berdiri di tepi jurang yang mempertanyakan kemanusiaanku sendiri.
Di sini, tak akan kautemui puisi.
Di sini, kata-kata tidak lagi memanggul arti,
ia menjelma menjadi darah, menjadi nadi, menjadi tubuh.
menyatu dengan luka itu,
menyatu dengan senyap itu,
menyatu dengan nyeri paku dan hunjam tombak di lambung kesadaran
dan siapa masih sanggup bertahan
berdiri tegak tanpa goyah
di bawah bayang kayu
yang menyilaukan
mata dunia?
November 2025”
―
Aku mendengar getar nadi yang berdenyut dari tangannya,
menjadi aliran yang memaksa paru-paruku berdetak dalam ritme kematian yang menyesakkan,
setiap tetes darahnya adalah tarian bisu yang membakar sarafku,
menembus semua ruang
yang sebelumnya
tak ada.
Di bawah kayu itu, ia tidak menjerit.
menahan segala sakit
yang tak terlukiskan,
mengalirkan dera itu ke setiap urat,
ke setiap tulang,
hingga aku sendiri menjadi daging
dan darahnya,
hingga aku sendiri menjadi luka
dan air mata yang tak berbentuk.
Aku melihat dan merasakan:
kehidupan dan kematian menyatu dalam batas yang bukan jurang.
Manusia tidak lagi berdiri di luar kesadaran selain kebebalan dan kedegilan jiwanya sendiri.
Dia menatapku dari mata yang remuk,
tetapi menatap dengan kornea yang seterang matahari
dengan sunyi yang lebih menyengat
dari semua api.
Aku merasakan setiap pilihan yang harus ia tanggung,
setiap penderitaan yang ditahan tanpa suara,
setiap kesadaran yang menolak mundur
mengajarkanku bahwa melihat luka tak pernah cukup—
kau harus menjadi luka itu sendiri,
kau harus menjadi denyut darah yang sama,
kau harus menjadi sunyi yang menembus tulang dan saraf.
Tidak ada belas kasihan, tidak ada pengampunan.
Hanya kesadaran murni, tanpa bentuk, tanpa kata,
menjadi api yang menyambar,
menjadi gelap yang merangkul,
menjadi nadi yang memaksa jiwaku berdiri di tepi jurang yang mempertanyakan kemanusiaanku sendiri.
Di sini, tak akan kautemui puisi.
Di sini, kata-kata tidak lagi memanggul arti,
ia menjelma menjadi darah, menjadi nadi, menjadi tubuh.
menyatu dengan luka itu,
menyatu dengan senyap itu,
menyatu dengan nyeri paku dan hunjam tombak di lambung kesadaran
dan siapa masih sanggup bertahan
berdiri tegak tanpa goyah
di bawah bayang kayu
yang menyilaukan
mata dunia?
November 2025”
―
“JENAWI
I. Kincah Belanga
Di antara gemeretak lentik kayu api gamang tualang di atas tempaan besi gabak mata di balik tungku pembakaran dan bayang kuasi samudra air mata teraduk sempurna dalam kincah belanga. Adakah sebuah perasaan lain yang mungkin, selain cinta? Jerih sebatang besi atau mungkin perih kersani yang niscaya beradu di antara hati dan jantung maut, saat keduanya bertaut?
Duhai pemutus rantap, jangan sekali-kali mata ditentang nyata, sebab kena tuahnya mati Belanda Duhai engkau penetak leher lembu betina. Akankah kaubawa keping secuil hatiku ke mana pun engkau pergi berkelana? Seperti kerat jangat dalam bungkus selampai putih Pada tajam mulut atau garit luka dingin parasmu yang hadir dalam ruap mimpi dan balau igauanku. Engkau mungkin saja sekadar fatamorgana di mana aku mengada dalam tiap tetes bening air mata rembulan, tempat di mana dulu aku melabuhkan segala kerinduan.”
―
I. Kincah Belanga
Di antara gemeretak lentik kayu api gamang tualang di atas tempaan besi gabak mata di balik tungku pembakaran dan bayang kuasi samudra air mata teraduk sempurna dalam kincah belanga. Adakah sebuah perasaan lain yang mungkin, selain cinta? Jerih sebatang besi atau mungkin perih kersani yang niscaya beradu di antara hati dan jantung maut, saat keduanya bertaut?
Duhai pemutus rantap, jangan sekali-kali mata ditentang nyata, sebab kena tuahnya mati Belanda Duhai engkau penetak leher lembu betina. Akankah kaubawa keping secuil hatiku ke mana pun engkau pergi berkelana? Seperti kerat jangat dalam bungkus selampai putih Pada tajam mulut atau garit luka dingin parasmu yang hadir dalam ruap mimpi dan balau igauanku. Engkau mungkin saja sekadar fatamorgana di mana aku mengada dalam tiap tetes bening air mata rembulan, tempat di mana dulu aku melabuhkan segala kerinduan.”
―
All Quotes
|
My Quotes
|
Add A Quote
Browse By Tag
- Love Quotes 102k
- Life Quotes 80k
- Inspirational Quotes 76.5k
- Humor Quotes 44.5k
- Philosophy Quotes 31k
- Inspirational Quotes Quotes 29k
- God Quotes 27k
- Truth Quotes 25k
- Wisdom Quotes 25k
- Romance Quotes 24.5k
- Poetry Quotes 23.5k
- Life Lessons Quotes 23k
- Quotes Quotes 21k
- Death Quotes 20.5k
- Happiness Quotes 19k
- Hope Quotes 18.5k
- Faith Quotes 18.5k
- Inspiration Quotes 17.5k
- Spirituality Quotes 16k
- Relationships Quotes 16k
- Life Quotes Quotes 15.5k
- Motivational Quotes 15.5k
- Religion Quotes 15.5k
- Love Quotes Quotes 15.5k
- Writing Quotes 15k
- Success Quotes 14k
- Motivation Quotes 13.5k
- Travel Quotes 13.5k
- Time Quotes 13k
- Motivational Quotes Quotes 12.5k
