[go: up one dir, main page]

Pengakuan Quotes

Quotes tagged as "pengakuan" Showing 1-6 of 6
“kebahagiaan terbesar adalah ketika menerima pengakuan dan penghargaan atas kualitas dirimu. sebaliknya, duka terbesar adalah kegagalan menjaga mereka dari pertahananmu.”
wasiman waz

Alfin Rizal
“AKU

Tanpa daya
Pura-pura
Dicumu nafsu
Enggan terasing

2015”
Alfin Rizal, Lisan Tulisan

Titon Rahmawan
“KAMAR MAYAT KATA-KATA

Aku membuka dadaku
seperti Sylvia membuka oven
tempat ia hendak membakar dirinya:
tanpa upacara,
tanpa metafora,
tanpa perhiasan bahasa
yang berusaha menutupi bau tubuh
yang sudah terlalu lama membusuk.

Inilah luka yang tidak berkafan.

Aku menulis bukan untuk sembuh—
hanya memastikan, rasa sakit itu
benar-benar nyata,
ia tidak bersembunyi
di balik diksi yang manis,
goresan pisau yang tidak menyamar sebagai harapan
demi membuat dunia merasa nyaman.

Nyaman adalah kebohongan.

Aku ingin mereka melihat
bagaimana kata-kata itu bergetar
di bawah ketiadaan cahaya,
bagaimana kenyataan menyeret dirinya melewati undakan tangga,
memecahkan cermin,
meretakkan rahang kesadaran,
mencabuti kuku-kuku yang tersisa
dari ibu jari batin.

Ini bukan kamar
hotel mewah.
Ini kamar mayat
tempat jasad puisi
diotopsi.

Setiap kata yang kau baca
adalah organ yang baru dipotong:
masih hangat,
masih berdarah,
masih membawa jejak ketakutan terakhirnya.

Aku meletakkannya di atas
nampan logam
tanpa penutup,
tanpa formalin,
tanpa doa.

Lihatlah: — ketakutan yang dikikis sampai tersisa tulang
— kemarahan yang dipaksa menelan lidahnya sendiri
— rasa bersalah yang dipakukan ke dinding
— harapan yang dibakar hingga tak berbentuk.

Ini bukan metafora,
ini pembersihan.
Penyembelihan kasar.
Eksorsisme penuh sadar.

Aku akan mengulang ritual Sylvia menulis dengan pisau;
biar aku tajamkan pisaunya
dan memasukannya lebih dalam.

Aku tidak mencari atribut indah.
Keindahan hanya membuat
luka terasa sopan.
Aku ingin luka ini menatapmu
tanpa kulit,
tanpa nama,
tanpa riasan.

Karena hanya ketika tubuh bahasa dikeluarkan dari kulitnya,
barulah kebenaran berdiri
tanpa takut, tanpa gemetar.

Maka inilah kebenaran itu:
bahwa aku telah menghabiskan hidup
menjadi aktor dalam drama
rasa sakitku sendiri,
mengecat wajahku dengan metafora
agar tampak seperti seni,
padahal aku hanyalah manusia
yang tidak pernah selesai melawan hegemoni teror sendiri.

Hari ini aku mengakhiri sandiwara itu
menanggalkan semua ornamen.
membiarkan yang tersisa
hanya daging mentah
yang masih berdarah.

Dan jika kau merasa ngeri,
bagus!
Rasa ngeri adalah bukti
bahwa kau masih hidup.

Inilah tandanya:
ruang putih,
dingin besi,
bau anyir logam,
kesunyian yang menyalak,
jiwa yang dibaringkan
telanjang
tanpa penutup,
tanpa belas kasihan,
tanpa penjelasan.

Tubuh remuk puisi
yang tidak menuntut dipahami
hanya menuntut jujur.

Karena kadang,
satu-satunya cara
untuk tetap hidup
adalah membiarkan
sebagian dari dirimu mati
di atas halaman kertas kosong
tanpa tulisan.

November 2025”
Titon Rahmawan

Titon Rahmawan
“LITURGI LUKA ATHALIA

1. Sebuah Ruangan yang Dibiarkan Terbuka

Aku berjalan melewati tempat yang dulu kita impikan.
Debu di lorong, seperti uap yang pecah
Ada catatan di pintu yang tak pernah kutulis
Tapi aku tetap membacanya... dengan tenggorokan tercekat.

Aku menyalakan lampu untuk berjaga-jaga jika kau datang.
Sebuah bayangan berlalu,
tapi tak pernah memberi nama.
Beberapa kata tersisa hanya setengah terdefinisi.
Sebuah puisi yang kita lipat... tapi tak pernah ditandatangani

Sebuah ruangan yang dibiarkan terbuka,
sebuah nama yang tak terucap
Sebuah waktu yang terhenti, tapi tak pernah terputus
Aku masih duduk di tempat kesunyianmu berada.
Dan kau masih tidur di tempat arwahku pernah berdoa.
Kita adalah napas antara selamat tinggal dan jiwa
yang selalu mengembara—selamanya gelisah, selamanya bertanya.

Kau menggores langit seperti bekas luka di senyummu.
Dan aku berdiri diam—memerhatikan,
untuk sementara.
Tapi cinta itu kejam ketika waktunya salah.
Dan kesunyian menjadi tempat kita berdua tinggal
selamanya.

Kutulis namamu di kaca
yang berkabut.
Kehangatan terdekap sekilas, yang kutahu takkan bertahan seutuhnya.
Namun sengaja kubisikkan hanya untuk mendengar
gema yang kau tinggalkan masih bergetar di hatiku.

Inilah ruangan yang dibiarkan terbuka,
sebuah janji yang tak terpatahkan
Sebuah halaman yang terbakar,
namun tak pernah terucap.
Aku menyimpan suaramu di antara ketakutanku.
Kau menyimpan wajahku
di tahun-tahun yang berlalu.
Dan meskipun kita pergi tanpa menutup pintu,
beberapa ruangan… masih mengingat lebih dari yang seharusnya.

Mungkin… kita tak pernah berniat pergi.
Atau mungkin… kita tak pernah tahu bagaimana caranya untuk tinggal.

2. Litani Gelas Pecah

Ada hari di mana aku percaya
kesucian bisa kusimpan
di telapak tangan,
dan kau—
kau adalah bening yang kutatap terlalu dekat
hingga aku lupa
betapa rapuhnya cahaya
jika disentuh oleh laki-laki sepertiku.

Kau bukan luka.
Kau adalah harapan yang kubangun dari obsesi,
kuil kecil tempat aku meletakkan imajinasi
yang tak pernah kuakui sebagai dosa.

Dan ketika gelas itu jatuh—
aku mendengar diriku sendiri pecah
lebih keras dari kepingan kristal berserakan di lantai.
Tak ada jeritan,
hanya diam yang membeku,
diam yang menua,
diam yang terus memakan waktu dan sunyi di dadaku.

Aku marah, Athalia.
Bukan padamu.
Bukan pada ingatan.
Tapi pada diriku
yang selalu percaya ia bisa menjaga sesuatu
yang seharusnya dibiarkan hidup
tanpa rasa takut.

Sekiranya kau tahu:
Sungai tidak cukup mampu
menahan gempuran yang menelan dirinya—
itu bukan salah siapa-siapa.
Namun tetap saja,
akulah yang memungut pecahan itu
dengan tangan telanjang,
membiarkan darah mengalir
dari kusut rambut matahari.

Aku masih menyimpan ingatanmu
seperti bekas luka yang tidak memilih sembuh.
Bukan karena aku tak bisa melepaskan,
tapi karena sebagian dari diriku
masih ingin mengingat
bagaimana rasanya percaya pada obsesinya sendiri.

Dan mungkin,
kalau dunia ini sedikit lebih lembut,
kita tidak akan pernah pecah berkeping.
Atau mungkin—
kita memang ditakdirkan
menjadi dua bayang
yang hanya saling menyentuh
di permukaan kaca
yang dingin.

Athalia,
aku tidak pernah ingin melukaimu.
Tapi aku lebih tidak ingin
melupakanmu.

Karena di antara serpihan itu,
aku masih mendengar gema
dari sesuatu
yang dulu kusebut
cinta.

Dan darahku—
biarlah ia mengalir.
Itu satu-satunya cara
aku tahu
bahwa aku masih hidup di tengah dunia yang menuntut melupakan.”
Titon Rahmawan

Titon Rahmawan
“LITURGI LUKA ATHALIA

3. Ritus Setelah Gelas yang Jatuh

Ada cahaya redup di sela seringai malam
yang tak pernah lagi menyebut namamu.
Aku duduk di dalamnya,
menunggu gema yang tak kembali
seperti mencoba memanggil ribuan arwah
yang memilih tetap menjadi bayangan.

Kau tahu, Athalia,
aku tidak jatuh cinta pada gelas kristal itu.
Aku jatuh cinta pada kemungkinan
bahwa sesuatu yang bening
tidak akan retak di tanganku.
Dan itu kebodohan
yang tak termaafkan.

Saat gelas itu pecah,
aku melihat serpihannya terbang pelan,
seperti bintang jatuh yang tak sempat mengucap doa.
Dan ada jeda di dada
yang tidak pernah
menutup mata.

Kemarahan yang bukan api—
kehampaan yang merayap di lantai, di dinding, di langit-langit.
Suara yang mati tersengat lebah sebelum tiba
di ujung lidah.
Dan sunyi itu…
melekat, menempel erat di tulang-tulangku.

Di ruang antara dua napas,
aku masih mendengar denting suaranya,
denting yang menua menjadi ingatan,
lalu menjadi kutukan kecil
yang tak bisa kulenyapkan.

Aku menyimpan ciumanmu sebagai bayangan
yang tak mau memudar.
Kekudusan yang kuberi terlalu banyak makna.
Imaji yang kubangun dari sketsa kerinduan
dan ketakutan tak terucap.

Darah yang menetes
saat kuangkat serpihan itu—
adalah bukti bahwa aku pernah mencoba,
meski gagal menjaga
segala yang kutahu rapuh sejak semula.

Di langit batinku
ada garis tipis yang kaulukis:
garis luka
yang memisahkan diriku bukan dengan dirimu melainkan dengan
diriku sendiri.

Athalia,
aku tahu kita tidak pernah sepenuhnya tinggal,
dan tidak pernah sepenuhnya pergi.
Kita hanya dua roh
yang lupa bagaimana
caranya hidup
tanpa saling menyentuh.

Aku tidak meminta maaf.
Maaf tidak punya gravitasi
di ruang segelap ini.

Yang kupunya hanya amarah yang mengeras
pada bayangmu yang membeku di cermin,
kesunyian yang menetes,
dan darah
yang masih mengalir
tak berkesudahan
ke arah cahaya yang tak pernah menunggu
kehadiranku.

Agustus 2023”
Titon Rahmawan

Titon Rahmawan
“REKONSTRUKSI ATHALIA DARI 6 ABSTRAKSI

1. RITUS BENING YANG RETAK (Abstraksi Kesadaran)

Aku menemukan pecahan itu
di dalam ruangan tanpa pintu:
bersih, presisi,
seperti bukti awal sebuah kesalahan
yang tidak memerlukan saksi.

Bening itu—yang pernah kusangka hidup—
kini hanya memantulkan jarak
antara tangan yang gemetar
dan kehendak yang keliru menghitung gravitasi.

Athalia,
namamu masih menempel pada permukaan kaca,
seperti sebutir nadi
yang menolak menjadi tubuh.

Tidak ada tragedi di sini.
Hanya perhitungan yang meleset
dari sesuatu yang sedari awal
terlalu rapuh
untuk kuasaku yang terbiasa
mengukur dunia dengan ketidakpastian.

Darah di jari-jari—
itu pun bukan pengakuan,
melainkan residu
dari percobaan yang belum selesai.
Tubuhku sekadar catatan kaki
bagi retakan yang bekerja
lebih cermat daripada perasaan.

Aku mencatat:
bahwa bening tidak dapat dipanggul
seperti gagasan.
Bahwa harapan tidak memiliki sendi
untuk menahan tekanan.
Bahwa cinta, pada saat tertentu,
adalah objek yang menolak takdirnya sendiri.

Kau jatuh, Athalia,
bukan sebagai kekasih,
tetapi sebagai fenomena:
gerakan singkat cahaya
yang gagal mempertahankan bentuknya.

Dan aku—
aku hanya pewaris sunyi
yang diam-diam menimbang
apakah retakan ini
adalah bukti rusaknya dirimu,
atau rusaknya aku
yang percaya sesuatu
dapat disembuhkan
hanya dengan sekadar memegangnya.

2. DI RUANG YANG TAK PERNAH SEMPAT MENUTUP PINTU (Abstraksi Kesunyian)

Ada jejak cahaya di lantai
yang mengingat langkahmu
lebih baik daripada diriku.

Pagi tadi,
aku menemukan secuil bening
yang pernah memantulkan wajahmu.
Ia diam saja,
seperti hendak mengatakan
bahwa pecah tak selalu harus bersuara.

Athalia,
aku memanggilmu dalam hati
—dan seperti biasa—
angin yang datang menjawab.
Ia membawa sedikit debu,
yang menempel pada namamu
di kaca yang perlahan mengabut.

Aku tidak menyalahkan
siapa pun.
Kadang benda yang rapuh
memilih retak
sebelum kita sempat menjaganya.

Kadang hati
lebih dahulu mengerti
apa yang tidak ingin ia akui.

Sejak itu,
aku belajar duduk lebih pelan
di ruangan yang kau tinggalkan terbuka.
Tidak ada yang berubah di sini,
kecuali cahaya
yang semakin tipis
lurus menyusuri tembok,
mencari sesuatu yang tak bisa kembali.

Aku masih menyimpan suaramu
di sela napas yang lewat begitu saja.
Dan jika aku meletakkan telapak tanganku
di atas serpihan itu,
aku tahu
yang terasa bukan sakit—
melainkan ingatan
yang belum selesai pergi.

Begitulah cinta bekerja, bukan?
Ia tinggal lebih lama
daripada mereka yang pernah merawatnya.

Dan pada akhirnya,
kita adalah dua nama
yang saling kehilangan
secara perlahan,
tanpa pernah benar-benar
mengucapkannya.”
Titon Rahmawan