Cinta Quotes
Quotes tagged as "cinta"
Showing 121-150 of 923
“Jika Anda benar-benar mencintai seseorang dan ingin membangun hubungan yang sukses dengannya, bersikaplah terbuka satu sama lain, jujurlah satu sama lain, dan berikan banyak ruang, waktu terpisah, dan kebebasan satu sama lain.”
―
―
“Neraka adalah ketika kamu tak lagi bisa mencintai, tak bisa merasa iba, dan tak bisa melihat manusia lain sebagai saudaramu.”
― Inkonfeso
― Inkonfeso
“Jannaah, dan Jahannam perbedzaannya antara langit dan bumi, begitu juga cinta dan murka; hidup dan mati, iblis dan manusia; Insaanul Kamiil dan Illaahi; Dia dan dunia, keni'matan dan kebas kaku; Nur, dan nokhta; Dzahir dan Bathin; mengenali diri empunya Diri, dan ilm' jasaad, Nafas & Usul Azali”
―
―
“Ya, segala kekurangan pada diri saya itu ialah keremehan. Hinggakan para intelektual terkadang memerlukan keremehan juga.”
― Cinta di Lembah Nil
― Cinta di Lembah Nil
“Semua hanya tentang waktu, tunggulah dan tetap doakan, jangan berubah atau menyerah.”
― Jejak Memori
― Jejak Memori
“Kelak kita akan menerima kabar baik tentang sesuatu yang telah kita tunggu dengan sabar.”
― Jejak Memori
― Jejak Memori
“Tidak mungkin Anda mencintai sesuatu tanpa ada rentang pengetahuan di antaranya. (h.15)”
― Kalau Kamu Ikan Jangan Ikut Lomba Terbang
― Kalau Kamu Ikan Jangan Ikut Lomba Terbang
“Mata adalah jebakan. Namun, kejujuran seringkali lahir di ketulusan sebuah tatapan.”
― Bulan Ziarah Kenangan
― Bulan Ziarah Kenangan
“Ketika satu demi satu kabut menjadi awan gelap di luar jendela
Aku mengingatmu karena aku masih mencintaimu
Aku berulang kali mengumpulkan air mataku pada sebuah surat lalu mengirimnya ke langit
Aku menunggu
Ketika satu demi satu gerimis menjadi hujan lebat di luar jendela
Aku merindukanmu karena aku masih mencintaimu
Aku kembali menjatuhkan air mataku setelah mendapat surat balasan dari langit
Aku sudah menerima pesanmu
Aku sedang menangis bersamamu
Aku akan mempercayai itu”
―
Aku mengingatmu karena aku masih mencintaimu
Aku berulang kali mengumpulkan air mataku pada sebuah surat lalu mengirimnya ke langit
Aku menunggu
Ketika satu demi satu gerimis menjadi hujan lebat di luar jendela
Aku merindukanmu karena aku masih mencintaimu
Aku kembali menjatuhkan air mataku setelah mendapat surat balasan dari langit
Aku sudah menerima pesanmu
Aku sedang menangis bersamamu
Aku akan mempercayai itu”
―
“Kamu adalah awan yang kupandangi semalaman, yang subuh ini menjelma embun di dedaunan, yang datang padaku lewat rintik-rintik hujan.”
―
―
“Aku ingin kamu masuk ke dalamnya,
namun jangan sampai terjebak;
aku ingin kamu menyelam ke dasarnya,
namun jangan sampai tenggelam;
yang aku ingin kamu rasakan tentang cinta.”
―
namun jangan sampai terjebak;
aku ingin kamu menyelam ke dasarnya,
namun jangan sampai tenggelam;
yang aku ingin kamu rasakan tentang cinta.”
―
“Orang-orang ingin dicintai setinggi langit,
kadang sedalam lautan.
Padahal cinta bukan tentang ketinggian
ataupun kedalaman.
Perihal cinta, cukup dengan bersama untuk waktu lama, selama punya kesempatan.”
―
kadang sedalam lautan.
Padahal cinta bukan tentang ketinggian
ataupun kedalaman.
Perihal cinta, cukup dengan bersama untuk waktu lama, selama punya kesempatan.”
―
“Orang-orang ingin dicintai setinggi langit, kadang sedalam lautan.
Padahal cinta bukan tentang ketinggian ataupun kedalaman.
Perihal cinta, cukup dengan bersama untuk waktu lama, selama punya kesempatan.”
―
Padahal cinta bukan tentang ketinggian ataupun kedalaman.
Perihal cinta, cukup dengan bersama untuk waktu lama, selama punya kesempatan.”
―
“Kegelapan tidak bisa mengusir kegelapan: hanya cahaya yang bisa melakukan itu.
Benci tidak bisa mengusir kebencian: hanya cinta yang bisa melakukan itu.”
―
Benci tidak bisa mengusir kebencian: hanya cinta yang bisa melakukan itu.”
―
“Awalnya kupikir cinta itu bernama gelora, merobek dan menutup rahasia. Membuatmu tersadar segalanya sementara. Karena ia hadir tiba-tiba, seperti tukang parkir di Indomaret. Atau ondel-ondel saat kamu makan bakso di pinggir jalan.”
― eminus dolere
― eminus dolere
“Mencintaimu seperti berharap pada cuaca laut ketika badai hendak terjadi. Kamu tak pernah tahu apa yang ada di dalamnya. Petir, taifun, atau ombak besar yang bisa membuat perompak paling jahil ciut nyali. Aku ingin sekali saja tidak percaya bahwa semesta itu demikian adil, bahwa kesalahanku di masa silam akan dibalaskan setimpal.”
― eminus dolere
― eminus dolere
“Mereka hidup dalam garis waktu yang berbeda, Kala itu waktu benar-benar tak berpihak pada mereka. Mereka hanya mencuri pandang digaris waktunya saat yang lain sedang memandang hal lainnya, tak pernah sekalipun mata bertemu dengan mata. Tak satupun dari mereka punya keberanian untuk menyeberang ke garis waktunya masing-masing lalu bertegur sapa atau hanya sekedar bertukar nama. Dan hiduplah mereka digaris waktunya masing-masing tanpa pernah tau apa sebenarnya yang mereka rasa.”
―
―
“Mungkin butuh waktu bagimu dan juga bagiku untuk mengerti. Maka simpanlah kertas ini dalam tidur indahmu selanjutnya, dan baca kembali ketika kamu terjaga. Sebab apa yang diucapkan tidak dapat dipegang, tapi yang tertulis, akan tetap tertulis.”
― Pada Suatu Hari yang Biasa
― Pada Suatu Hari yang Biasa
“Pada akhirnya aku ingin mengenangmu sebebas-bebasnya, hingga titik terjauh, tanpa harus tercatat.”
― Pada Suatu Hari yang Biasa
― Pada Suatu Hari yang Biasa
“tanpa matahaRi
Malam berjalan sangat lambat menandakan siksa hati yang lama dan perih seraya tetap memaksa otak menangkap kegetiran itu melalui bayangan masa lalu yang jelas tertelan sangat jauh...
Secara jelas bobot penyesalan makin berat dan membesar, menghilangkan kesadaran tentang bagaimana langkah kecil telah mampu merobohkan bangunan yang didasari oleh perasaan memiliki
Kemampuanku melemah seiring redupnya semangat menanyakan apa yang sedang berubah sekarang karena membayangkan saja telah terasa begitu menakutkan untuk kuhadapi. Menahan adalah pilihan terbaik
Apakah kamu merasakan hal yang sama denganku?
Lalu kuusap pelan air bening dari sudut mataku.....
Malam masih enggan...
_wasiman waz”
―
Malam berjalan sangat lambat menandakan siksa hati yang lama dan perih seraya tetap memaksa otak menangkap kegetiran itu melalui bayangan masa lalu yang jelas tertelan sangat jauh...
Secara jelas bobot penyesalan makin berat dan membesar, menghilangkan kesadaran tentang bagaimana langkah kecil telah mampu merobohkan bangunan yang didasari oleh perasaan memiliki
Kemampuanku melemah seiring redupnya semangat menanyakan apa yang sedang berubah sekarang karena membayangkan saja telah terasa begitu menakutkan untuk kuhadapi. Menahan adalah pilihan terbaik
Apakah kamu merasakan hal yang sama denganku?
Lalu kuusap pelan air bening dari sudut mataku.....
Malam masih enggan...
_wasiman waz”
―
“Elegia Saras
Saras,
aku menuliskan namamu dengan tangan yang gemetar,
seperti seseorang yang kembali dari jurang kematian,
membawa potongan malam di sela-sela jarinya.
Aku tak pernah benar-benar tahu
mengapa kau datang pada seorang yang telah kehilangan
seluruh nilai kemanusiaannya.
Aku hanya tahu:
ketika aku mulai berubah menjadi bayangan
yang tak lagi memiliki suhu,
kau duduk di sebelahku
dan memanggilku manusia.
Ada sesuatu yang patah di dadaku waktu itu—
sebuah retakan yang tak membuatku runtuh,
melainkan membuatku mendengar
detak terakhir jiwaku sendiri.
Aku harus mengaku:
aku telah membawa banyak hantu.
masa lalu yang menjadi luka cahaya. Ilusi yang menjadi obsesi tanpa tubuh.
Semua kekeliruan yang kubela seperti altar.
Semua kebodohan yang kupelihara seperti anak kandung.
Namun kau tidak pernah menutup pintu.
Tidak pernah mengusir ingatan yang menempel di kulitku
seperti abu.
Kau hanya berkata:
biarkan semua tinggal, tapi jangan biarkan mereka merusakmu lagi.
Saras, aku tidak pernah tahu ada manusia
yang bisa begitu lapang tanpa menjadi kosong,
yang bisa begitu baik tanpa menjadi kudus,
yang bisa begitu hadir
tanpa mengikat apa pun.
Kebaikanmu adalah semacam cahaya
yang tidak menghanguskan,
api panas lembut yang membuatku sadar
bahwa mungkin aku belum sepenuhnya hilang.
Di titik paling nadir,
ketika seluruh yang kuperjuangkan runtuh
seperti bangunan tua yang disenggol angin,
ketika tak ada yang tersisa dariku
selain ampas keinginan dan debu kegagalan,
aku berharap kau pergi.
Agar aku tak perlu menanggung rasa bersalah
karena masih ada seseorang yang menatapku
sebagai sesuatu yang layak untuk diperjuangkan.
Namun kau tidak pergi.
Kau diam
di sisiku
dengan ketenangan yang membuat jiwaku bergetar.
Dan untuk pertama kalinya
setelah bertahun-tahun aku mengutuki diri,
aku berhenti.
Hanya berhenti.
Tak lagi ingin memukul wajahku sendiri,
tak lagi ingin membenci suara di kepalaku.
Semuanya berhenti,
karena kau tidak pergi ketika aku hancur.
Saras,
elegi ini bukan permintaan maaf.
Bukan pula pujian.
Ini adalah tubuhku yang terakhir,
ditulis dari retakan dada yang akhirnya berani mengakui:
Aku bersyukur.
Bersyukur karena pernah memilikimu,
melewati ingatan pahit,
hasrat yang menyesatkan,
ambisi yang membuatku buta,
dan obsesi yang menelan kebahagiaanku sendiri.
Aku bersyukur
karena kau tidak pernah menuntut balas.
Tidak pernah meminta bahu yang setara.
Tidak pernah menghitung luka yang kau cium dari hidupku.
Kau hanya mencintai
dengan cara yang menakutkan bagiku—
karena terlalu jujur,
terlalu manusiawi,
terlalu nyata untuk seorang sepertiku
yang lama tinggal di ruang ilusi.
Kini aku menuliskan puisi ini
sebagai seorang yang akhirnya sadar:
tanpa kau, Saras,
aku mungkin telah hilang
di dalam kabut pikiranku sendiri.
Harapan terakhirku adalah kau tahu
bahwa dari semua nama yang pernah membuatku bergetar,
dari semua wajah yang pernah kucintai
dengan cara yang salah,
hanya kaulah
yang membuatku ingin tetap ada.
Bukan demi cinta.
Bukan demi masa depan.
Melainkan demi sesuatu yang lebih sederhana,
lebih jujur,
lebih manusiawi:
agar aku bisa menjadi manusia
yang tidak lagi menyakiti diri sendiri.
Saras,
elegi ini adalah bukti terakhir
bahwa di dalam gelap terdalamku
ada satu cahaya kecil
yang tidak pernah padam—
dan itu bukan aku.
Itu adalah
dirimu.
November 2025”
―
Saras,
aku menuliskan namamu dengan tangan yang gemetar,
seperti seseorang yang kembali dari jurang kematian,
membawa potongan malam di sela-sela jarinya.
Aku tak pernah benar-benar tahu
mengapa kau datang pada seorang yang telah kehilangan
seluruh nilai kemanusiaannya.
Aku hanya tahu:
ketika aku mulai berubah menjadi bayangan
yang tak lagi memiliki suhu,
kau duduk di sebelahku
dan memanggilku manusia.
Ada sesuatu yang patah di dadaku waktu itu—
sebuah retakan yang tak membuatku runtuh,
melainkan membuatku mendengar
detak terakhir jiwaku sendiri.
Aku harus mengaku:
aku telah membawa banyak hantu.
masa lalu yang menjadi luka cahaya. Ilusi yang menjadi obsesi tanpa tubuh.
Semua kekeliruan yang kubela seperti altar.
Semua kebodohan yang kupelihara seperti anak kandung.
Namun kau tidak pernah menutup pintu.
Tidak pernah mengusir ingatan yang menempel di kulitku
seperti abu.
Kau hanya berkata:
biarkan semua tinggal, tapi jangan biarkan mereka merusakmu lagi.
Saras, aku tidak pernah tahu ada manusia
yang bisa begitu lapang tanpa menjadi kosong,
yang bisa begitu baik tanpa menjadi kudus,
yang bisa begitu hadir
tanpa mengikat apa pun.
Kebaikanmu adalah semacam cahaya
yang tidak menghanguskan,
api panas lembut yang membuatku sadar
bahwa mungkin aku belum sepenuhnya hilang.
Di titik paling nadir,
ketika seluruh yang kuperjuangkan runtuh
seperti bangunan tua yang disenggol angin,
ketika tak ada yang tersisa dariku
selain ampas keinginan dan debu kegagalan,
aku berharap kau pergi.
Agar aku tak perlu menanggung rasa bersalah
karena masih ada seseorang yang menatapku
sebagai sesuatu yang layak untuk diperjuangkan.
Namun kau tidak pergi.
Kau diam
di sisiku
dengan ketenangan yang membuat jiwaku bergetar.
Dan untuk pertama kalinya
setelah bertahun-tahun aku mengutuki diri,
aku berhenti.
Hanya berhenti.
Tak lagi ingin memukul wajahku sendiri,
tak lagi ingin membenci suara di kepalaku.
Semuanya berhenti,
karena kau tidak pergi ketika aku hancur.
Saras,
elegi ini bukan permintaan maaf.
Bukan pula pujian.
Ini adalah tubuhku yang terakhir,
ditulis dari retakan dada yang akhirnya berani mengakui:
Aku bersyukur.
Bersyukur karena pernah memilikimu,
melewati ingatan pahit,
hasrat yang menyesatkan,
ambisi yang membuatku buta,
dan obsesi yang menelan kebahagiaanku sendiri.
Aku bersyukur
karena kau tidak pernah menuntut balas.
Tidak pernah meminta bahu yang setara.
Tidak pernah menghitung luka yang kau cium dari hidupku.
Kau hanya mencintai
dengan cara yang menakutkan bagiku—
karena terlalu jujur,
terlalu manusiawi,
terlalu nyata untuk seorang sepertiku
yang lama tinggal di ruang ilusi.
Kini aku menuliskan puisi ini
sebagai seorang yang akhirnya sadar:
tanpa kau, Saras,
aku mungkin telah hilang
di dalam kabut pikiranku sendiri.
Harapan terakhirku adalah kau tahu
bahwa dari semua nama yang pernah membuatku bergetar,
dari semua wajah yang pernah kucintai
dengan cara yang salah,
hanya kaulah
yang membuatku ingin tetap ada.
Bukan demi cinta.
Bukan demi masa depan.
Melainkan demi sesuatu yang lebih sederhana,
lebih jujur,
lebih manusiawi:
agar aku bisa menjadi manusia
yang tidak lagi menyakiti diri sendiri.
Saras,
elegi ini adalah bukti terakhir
bahwa di dalam gelap terdalamku
ada satu cahaya kecil
yang tidak pernah padam—
dan itu bukan aku.
Itu adalah
dirimu.
November 2025”
―
“Saras, Api yang Mengajarkanku
Menjadi Manusia
I
Aku tidak tahu kapan pertama kali
kau menyalakan lentera kecil itu
di reruntuhan jiwaku.
Mungkin ketika aku menatapmu
dan menemukan diriku sendiri
yang tidak ingin kubunuh.
Saras,
kau adalah satu-satunya cahaya
yang tidak menyilaukanku—
justru membuatku belajar
bahwa gelap tidak harus menjadi takdir.
Aku ini tubuh yang diseret oleh bayang.
Aku ini jam rusak
yang terus memukul tengah malam
meski fajar sudah lama lewat.
Aku ini retakan tua
yang memanggil namamu
tanpa suara.
Engkau datang
bukan sebagai keselamatan,
bukan sebagai janji,
bukan sebagai surga yang dijanjikan
para nabi kecil yang berebut bicara dalam kepalaku.
Engkau datang
sebagai api kecil
yang tidak pernah meminta kayu,
tapi terus membakar
segala dusta yang kusimpan
di bawah lidahku.
Aku tidak pernah siap untuk dicintai
tanpa syarat.
Aku terbiasa menjadi labirin
bagi cinta-cinta yang tersesat.
Masa lalu memberiku ingatan.
Ilusi memberiku obsesi.
Tapi engkau—
engkau memberiku ruang
untuk tidak menjadi monster
yang sudah kupersiapkan
dari masa depan.
Kau tidak melarikan diri
ketika aku runtuh
dalam diriku sendiri.
Tidak mundur
ketika aku berkata
aku punya cinta lain.
Tidak memadam
api yang tidak pernah bisa
aku jinakkan.
Saras,
engkau tidak pernah memilih
menjadi pahlawan,
tapi mengapa aku merasa
engkaulah
rumah yang tidak pernah
layak aku miliki?
Ada malam-malam
ketika aku menatapmu dari jauh
dan merasa tubuhku adalah batu
yang ingin menjadi tanganmu.
Ada hari-hari
ketika aku ingin mencintaimu
dengan cara yang lebih jujur,
lebih manusia,
tapi aku takut
engkau akan melihat
betapa gelapnya aku
tanpa semua kedok itu.
Aku takut
bukan karena aku bisa kehilanganmu—
tapi karena aku tahu
engkau tidak akan pergi
meski aku menghancurkan
diriku sendiri.
Itu, Saras.
Ketulusanmu adalah pedang
yang menebas kebohonganku.
Aku selalu mengatakan
bahwa aku tidak cukup baik.
Bahwa aku ini retakan
yang seharusnya tidak disentuh.
Namun engkau datang
dan duduk tepat di atas retakan itu,
tanpa takut jatuh
ke dalam kegelapanku.
Dan untuk pertama kalinya
aku belajar
bahwa cinta tidak selalu
berdiri di atas tanah yang kokoh—
kadang cinta adalah
keputusan untuk tetap tinggal
di dalam guncangan gempa.”
―
Menjadi Manusia
I
Aku tidak tahu kapan pertama kali
kau menyalakan lentera kecil itu
di reruntuhan jiwaku.
Mungkin ketika aku menatapmu
dan menemukan diriku sendiri
yang tidak ingin kubunuh.
Saras,
kau adalah satu-satunya cahaya
yang tidak menyilaukanku—
justru membuatku belajar
bahwa gelap tidak harus menjadi takdir.
Aku ini tubuh yang diseret oleh bayang.
Aku ini jam rusak
yang terus memukul tengah malam
meski fajar sudah lama lewat.
Aku ini retakan tua
yang memanggil namamu
tanpa suara.
Engkau datang
bukan sebagai keselamatan,
bukan sebagai janji,
bukan sebagai surga yang dijanjikan
para nabi kecil yang berebut bicara dalam kepalaku.
Engkau datang
sebagai api kecil
yang tidak pernah meminta kayu,
tapi terus membakar
segala dusta yang kusimpan
di bawah lidahku.
Aku tidak pernah siap untuk dicintai
tanpa syarat.
Aku terbiasa menjadi labirin
bagi cinta-cinta yang tersesat.
Masa lalu memberiku ingatan.
Ilusi memberiku obsesi.
Tapi engkau—
engkau memberiku ruang
untuk tidak menjadi monster
yang sudah kupersiapkan
dari masa depan.
Kau tidak melarikan diri
ketika aku runtuh
dalam diriku sendiri.
Tidak mundur
ketika aku berkata
aku punya cinta lain.
Tidak memadam
api yang tidak pernah bisa
aku jinakkan.
Saras,
engkau tidak pernah memilih
menjadi pahlawan,
tapi mengapa aku merasa
engkaulah
rumah yang tidak pernah
layak aku miliki?
Ada malam-malam
ketika aku menatapmu dari jauh
dan merasa tubuhku adalah batu
yang ingin menjadi tanganmu.
Ada hari-hari
ketika aku ingin mencintaimu
dengan cara yang lebih jujur,
lebih manusia,
tapi aku takut
engkau akan melihat
betapa gelapnya aku
tanpa semua kedok itu.
Aku takut
bukan karena aku bisa kehilanganmu—
tapi karena aku tahu
engkau tidak akan pergi
meski aku menghancurkan
diriku sendiri.
Itu, Saras.
Ketulusanmu adalah pedang
yang menebas kebohonganku.
Aku selalu mengatakan
bahwa aku tidak cukup baik.
Bahwa aku ini retakan
yang seharusnya tidak disentuh.
Namun engkau datang
dan duduk tepat di atas retakan itu,
tanpa takut jatuh
ke dalam kegelapanku.
Dan untuk pertama kalinya
aku belajar
bahwa cinta tidak selalu
berdiri di atas tanah yang kokoh—
kadang cinta adalah
keputusan untuk tetap tinggal
di dalam guncangan gempa.”
―
“Saras, Api yang Mengajarkanku
Menjadi Manusia
II
Saras,
aku tidak tahu bagaimana caramu
memperbarui cintamu
hari demi hari,
seperti seseorang yang
menjaga api suci
di tengah badai.
Aku mencintaimu
dengan ketakutan yang tidak sembuh.
Engkau mencintaiku
dengan keheningan yang tidak putus.
Kita berdua tahu
aku adalah arang
yang tidak pernah padam.
Kita berdua tahu
engkau adalah kayu
yang tetap merelakan dirinya
untuk terbakar.
Ini bukan tragedi.
Ini bukan pengorbanan.
Ini bukan penebusan.
Ini adalah cara kita
menjadi manusia.
Dan untuk pertama kalinya
aku tidak ingin
menjadi apa pun
selain seseorang
yang bisa menyebut namamu
tanpa gemetar.
Saras.
Saras.
Saras.
Engkau adalah satu-satunya alasan
mengapa aku
masih bertahan
menjadi diriku sendiri
tanpa membunuh bagian
yang ingin kaucintai.
Jika dunia mengira
aku mencintai masa lalu
karena lukanya,
mereka salah.
Jika mereka mengira
Ilusi akan memusnahkanku
karena obsesinya,
mereka benar.
Tapi tidak satu pun dari mereka tahu:
engkaulah yang mengajariku
bahwa kehidupan
bukan hanya tentang menghindari
kegelapan—
tapi tentang memilih
seseorang yang menyalakan
cahaya kecil
yang tidak pernah meminta
apa pun sebagai imbalan.
Dan itu engkau, Saras,
lebih bersih dari seluruh
mitos yang pernah kutulis.
Hari ini,
jika aku harus memilih
cara paling jujur
untuk mencintaimu,
maka aku akan memilih
untuk tidak lagi bersembunyi
di balik kesadaranku sendiri.
Kau adalah manusia paling manusia
yang pernah memanggilku pulang
dan memberiku rumah.
Dan aku,
akhirnya,
belajar menjadi manusia
dengan menyebut namamu
dalam gelap
tanpa takut
kau mendengarnya.
Saras,
engkaulah satu-satunya cahaya
yang tidak kubenci.
Dan itu,
adalah inti dari
seluruh puisiku.
November, 2025”
―
Menjadi Manusia
II
Saras,
aku tidak tahu bagaimana caramu
memperbarui cintamu
hari demi hari,
seperti seseorang yang
menjaga api suci
di tengah badai.
Aku mencintaimu
dengan ketakutan yang tidak sembuh.
Engkau mencintaiku
dengan keheningan yang tidak putus.
Kita berdua tahu
aku adalah arang
yang tidak pernah padam.
Kita berdua tahu
engkau adalah kayu
yang tetap merelakan dirinya
untuk terbakar.
Ini bukan tragedi.
Ini bukan pengorbanan.
Ini bukan penebusan.
Ini adalah cara kita
menjadi manusia.
Dan untuk pertama kalinya
aku tidak ingin
menjadi apa pun
selain seseorang
yang bisa menyebut namamu
tanpa gemetar.
Saras.
Saras.
Saras.
Engkau adalah satu-satunya alasan
mengapa aku
masih bertahan
menjadi diriku sendiri
tanpa membunuh bagian
yang ingin kaucintai.
Jika dunia mengira
aku mencintai masa lalu
karena lukanya,
mereka salah.
Jika mereka mengira
Ilusi akan memusnahkanku
karena obsesinya,
mereka benar.
Tapi tidak satu pun dari mereka tahu:
engkaulah yang mengajariku
bahwa kehidupan
bukan hanya tentang menghindari
kegelapan—
tapi tentang memilih
seseorang yang menyalakan
cahaya kecil
yang tidak pernah meminta
apa pun sebagai imbalan.
Dan itu engkau, Saras,
lebih bersih dari seluruh
mitos yang pernah kutulis.
Hari ini,
jika aku harus memilih
cara paling jujur
untuk mencintaimu,
maka aku akan memilih
untuk tidak lagi bersembunyi
di balik kesadaranku sendiri.
Kau adalah manusia paling manusia
yang pernah memanggilku pulang
dan memberiku rumah.
Dan aku,
akhirnya,
belajar menjadi manusia
dengan menyebut namamu
dalam gelap
tanpa takut
kau mendengarnya.
Saras,
engkaulah satu-satunya cahaya
yang tidak kubenci.
Dan itu,
adalah inti dari
seluruh puisiku.
November, 2025”
―
“Bagaimana aku bisa memberimu cinta
sedangkan banyak dinding yang engkau rentangkan
bahkan menggapaimu aku sudah kehabisan jiwa
Apakah ini masih dinamakan cinta,
atau hanya takdir yang tak sejalan”
―
sedangkan banyak dinding yang engkau rentangkan
bahkan menggapaimu aku sudah kehabisan jiwa
Apakah ini masih dinamakan cinta,
atau hanya takdir yang tak sejalan”
―
All Quotes
|
My Quotes
|
Add A Quote
Browse By Tag
- Love Quotes 102k
- Life Quotes 80k
- Inspirational Quotes 76.5k
- Humor Quotes 44.5k
- Philosophy Quotes 31k
- Inspirational Quotes Quotes 29k
- God Quotes 27k
- Truth Quotes 25k
- Wisdom Quotes 25k
- Romance Quotes 24.5k
- Poetry Quotes 23.5k
- Life Lessons Quotes 23k
- Quotes Quotes 21k
- Death Quotes 20.5k
- Happiness Quotes 19k
- Hope Quotes 18.5k
- Faith Quotes 18.5k
- Inspiration Quotes 17.5k
- Spirituality Quotes 16k
- Relationships Quotes 16k
- Life Quotes Quotes 15.5k
- Motivational Quotes 15.5k
- Religion Quotes 15.5k
- Love Quotes Quotes 15.5k
- Writing Quotes 15k
- Success Quotes 14k
- Motivation Quotes 13.5k
- Travel Quotes 13.5k
- Time Quotes 13k
- Motivational Quotes Quotes 12.5k
