[go: up one dir, main page]

Sajak Quotes

Quotes tagged as "sajak" Showing 31-60 of 150
“Detik-detik menuju pulang:
Yang patah pada ranting
bukanlah kayu,
melainkan hatiku.”
Robi Aulia Abdi (@aksarataksa)

Ibe S. Palogai
“Setiap orang memiliki perang yang tak pernah mereka menangkan.”
Ibe S. Palogai, Struktur Cinta Yang Pudar

“Karena cinta sejatinya adalah
segumpal tanya yang gelisah
pada malam siapa saja.”
Robi Aulia Abdi (@aksarataksa)

“Barangkali tidak ada yang benar-benar tahu ke mana perginya cinta setelah ia tiada, juga tidak ada yang benar-benar mengerti ke mana ruh pergi setelah ia beranjak dari ragawi.

Barangkali tidak ada yang tahu pasti.
Barangkali takada yang peduli.”
Robi Aulia Abdi (@aksarataksa)

“Bila pada suatu minggu
engkau diracuni beribu rindu yang halu,
maka pastikan engkau punya
cukup penangkalnya;
temu.”
Robi Aulia Abdi (@aksarataksa)

“Jangan jadi penyair!
Jadi pengangguran saja,
toh juga isunya juga akan digaji
oleh negara.”
Robi Aulia Abdi (@aksarataksa)

Ibe S. Palogai
“Liar hutan di tubuhku adalah belukar terbaik bagi penjahat bersembunyi. Aku selalu menemukan diriku di sana atau mungkin semua yang sembunyi adalah diriku. Lari dari masa lalu yang kasar, berjarak dari kemarahan yang memar, dan penyesalan selalu menukar kebahagiaan dengan trauma yang samar.”
Ibe S. Palogai, Struktur Cinta Yang Pudar

“Mencintai hujan, kau harus sudi demam tujuh hari tujuh malam.

Tidak percaya?
Coba saja!”
Robi Aulia Abdi (@aksarataksa)

“Maka apa saja yang didasari oleh cinta,
pasti ia tidak mengharapkan apa-apa.”
Robi Aulia Abdi (@aksarataksa)

“Terkadang memang ada satu atau dua hal yang memaksa kita berpikir untuk tidak berpikir sekali lagi.”
Robi Aulia Abdi (@aksarataksa)

“Dan janganlah engkau ragu dengan cita rasa makanan ibu, entah itu kelihatan enak atau tidak, tetap saja itu membuatmu jilat siku, lantaran dalam setiap masakannya ia sudi menumpahkan segenap bumbu rahasia, yakni cinta.”
Robi Aulia Abdi (@aksarataksa)

“Batu sendu
— di tengah sungai
yang mengalir itu —
tahu isi hatimu,
maka diam
ia tersipu.”
Robi Aulia Abdi (@aksarataksa)

“Dengan menyebut nama engkau
yang kucinta, aku bersaksi!

Bahwa minggu yang menggema
di kepalaku ini,
sepenuhnya menjadi milikmu
dan sunyi.”
Robi Aulia Abdi (@aksarataksa)

“Kuhunjamkan pedangku ke bilah dadaMu
Kautikam jantungku dengan belati

Lihat siapa di antara kita yang abadi!”
Robi Aulia Abdi (@aksarataksa)

Ibe S. Palogai
“Setiap orang memiliki perang yang tak pernah mereka menangkan. Obsesi pada kesendirian terjungkal seimbang. Hari-hari muda penuh label merekayasa struktur waktu. Masa depan menghapus rahasia dan yang autentik dari diri tak pernah ada.”
Ibe S. Palogai, Struktur Cinta Yang Pudar

Ibe S. Palogai
“Di Munduk kasihku, dingin bermain api. Memeluk yang hampir membakar liar hutan yang tumbuh di tubuhku.

Kasihku, di sini, subuh sepanjang waktu. Menawanku seperti maaf yang tak pernah tiba pada inang amarahmu.

Angin timur dari lembah ini adalah separuh ingatanmu yang berusaha keras berkuasa melupakanku.”
Ibe S. Palogai, Struktur Cinta Yang Pudar

“Kata-kata itu semestinya berlaku seperti air,
maka biarkan saja sederas mungkin ia mengalir.”
Robi Aulia Abdi (@aksarataksa)

“Kudengar kabar bahwa istrinya seorang gundik rumah bordir di tepi jalan sana,
sementara putra semata wayangnya
adalah seorang bandar narkoba,
ia hanya seorang pedagang kaki lima,
yang terkadang mendapat untung,
yang terkadang pulang membawa karung.

Tapi dengan keadaan yang begitu rumit, bagaimana mereka bisa bahagia?

Sederhana,
mereka hanya menyayangi satu sama lainnya.”
Robi Aulia Abdi (@aksarataksa)

“Pagiku adalah pagi di mana aku
harus terburu-buru menyeka kecupmu,
dari bekas kasur di rona pipiku.

•••

IG: @crobyx Twitter: @crobyx2”
Robi Aulia Abdi (@aksarataksa)

“Membahas masalah rindu,
ia hanya perihal jarak, kekasih;
hanya ihwal jangka dan jeda.

Maka kirimkanlah daku rindu,
yang serupa tangan jauhmu
— kuasi mengancing bajuku
pada suatu pagi yang buru-buru.”
Robi Aulia Abdi (@aksarataksa)

“Karena cinta sejatinya
berupa angka-angka
yang ganjil dan genap
seiring bertambahnya usia.”
Robi Aulia Abdi (@aksarataksa)

“Jika cinta serupa gas air mata,
maka percayalah,
aku adalah mata para pendemo
yang selalu basah karenanya.”
Robi Aulia Abdi (@aksarataksa)

“Lalu kenapa kini semuanya harus berdasarkan paras dan bentuk,
jika sejatinya bahagia dan kenyamanan itu datang dalam bentuk segala rupa?”
Robi Aulia Abdi (@aksarataksa)

“Asal mula adalah tanya
Kata melahirkan tanya
Tanya melahirkan kita
Kita menyibak kata
hingga timbullah tanya

Tanya yang menga-nga
di ambang jendela
di daun-daun pintu,
hingga terbesitlah tanya
di balik rok dan bajumu”
Robi Aulia Abdi (@aksarataksa)

“Kepada sunyi
yang senantiasa menyulut rindu
pada malam yang kelabu

Tunduklah engkau
di haribaan hati yang satu!”
Robi Aulia Abdi (@aksarataksa)

“Kautahu kekasih, bahwa minggu sejatinya bukanlah hari; kata; tenggat; ataupun tanya
ia adalah tunggu,
penantian dalam libur sepanjang waktu.

Sedangkan senin hanyalah ilusi!”
Robi Aulia Abdi (@aksarataksa)

“Tatkala minggumu yang sibuk
dan mingguku yang kelabu
bertemu pada minggu yang satu,
maka timbullah minggu-minggu lainnya
yang bersahaja.”
Robi Aulia Abdi (@aksarataksa)

“Kau tahu kekasih, malam minggu itu adalah ketika jalan-jalan kota dipenuhi oleh para remaja, yang tingkahnya mendesak siapa saja untuk bertanya,
"Sudah punya anak berapa?”
Robi Aulia Abdi (@aksarataksa)

“Kita pun kini paham
bahwa takada yang abadi
–termasuk kita−
dalam puisi.”
Robi Aulia Abdi (@aksarataksa)

Ibe S. Palogai
“Setiap orang tertipu oleh kesetiaan yang diciptakan untuk menipu diri sendiri. Begitu banyak yang tenggelam di permukaan. Sementara inti kehidupan yang tersisa hanya kedangkalan-kedangkalan yang direhabilitasi rahasia.”
Ibe S. Palogai, Struktur Cinta Yang Pudar