[go: up one dir, main page]

Monday, March 30, 2009

She tells the truth, only the truth, and nothing but the truth.........well sometimes.....in her own version

Penting diperhatikan sebelum membaca:
Dalam tiap kasus, eneng selalu pakai suara selantang jurkam yg pake toa bersuara jernih, selalu diucapkan tepat di depan hidung 'korban' dan most of the time pakai gaya tunjuk2, tentu ke arah si korban.






*ibu2 ber-sunglases lewat*
Isya: "iiiih nenek-nenek pakai kacamata"
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

*di sebuah RS, eni+abah+isya lagi nemenin dandy ke dokter mata, di ruang tunggu ibu2 yang kakinya terlihat sakit lewat sambil terpincang-pincang*
Isya:"kok ibu-ibu jalannya begitu? kakinya kenapa"
Ibu-ibu pincang: ngelengos sambil jalan terus *maafkan anak saya ya bu, jangan diambil hati*
Ibu-ibu lain: "ih pinter banget, anak siapa nih?"
eni: *pura-pura baca poster di dinding, dalam hati bersyukur itu anak bener2 bukan anaknya dia*
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

*di baby shop*
bunda: "ini mbaknya mana sih?"
Isya: "nih dia nih mbaknya" *sambil nunjuk ibu2 berdandan rapih dan cantik yang tentunya bersa mimpi buruk dituduh mbak-penjaga-toko, oooh semoga ibu2 itu gak terus mengurung diri di kamar sambil berencana operasi plastik*
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Isya: "kok dia enggak pake baju sih? yang lain pada pake baju, dia telanjang tuh" *nunjuk seorang kuli bangunan topless yg lagi ngobrol sama teman2nya, yg tentunya memakai baju semua*
Bunda: purapura gak denger sambil gak berani nengok ke arah para kuli
Isya: mengulangi terus sampai Bunda jawab
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Isya: "eh ada kakek-kakek nda, tuh dia tuh kakek-kakek tuh, dia kakek-kakek sendiri yah" *nunjuk mandor yg emang udah rada tua kalau dibandingin kuli-kuli bangunan di sekelilingnya*
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

*ayah nutup retsleting tas dengan kenceng sampai mengeluarkan suara*
Isya: Ayah kentut yah? iiiih ayah kentut nih, sembalangan aja kentutnya
Ayah: enggaaaak ayah gak kentut *brusaha tegar sambil nurunin volume suara, dengan harapan isya menirunya*
Isya: Ayah kentut! kayak isya yah....ayah suka kentut kayak isya kan?
Ayah: enggak kok...beneran ayah gak kentut *suara mulai lirih pertanda putus asa*
Isya: IIIIh iyaaa ayah kentuuuuut...sembalangan kentutnyaaaaa *volume makin menggelagar*
Bunda: ketawa ngakak ampe lemes =))
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

*di resto, seorang gadis masa kini berdiri di depan kasir dengan jeans hipster dan kaos yg agak pendek sehingga birthmark di bagian hampir-bokong nya kliatan*
Isya: dia kenapa tuh pantatnya?
Aybund: *speechless* :|
Isya: tuh..tuh...dia pantatnya ada apanya tuh *nunjuk2 malahan mau turun dari bangku buat nyamperin si gadis masa kini, seakan2 ngomong dengan suara menggelagar saja masih kurang*
Aybund: mengutuk penemu model hipster

Friday, March 27, 2009

She tells the truth, only the truth, and nothing but the truth.........well sometimes.....in her own version

Penting diperhatikan sebelum membaca:
Dalam tiap kasus, eneng selalu pakai suara selantang jurkam yg pake toa bersuara jernih, selalu diucapkan tepat di depan hidung 'korban' dan most of the time pakai gaya tunjuk2, tentu ke arah si korban.




*ibu2 ber-sunglases lewat*
Isya: "iiiih nenek-nenek pakai kacamata"
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

*di sebuah RS, eni+abah+isya lagi nemenin dandy ke dokter mata, di ruang tunggu ibu2 yang kakinya terlihat sakit lewat sambil terpincang-pincang*
Isya:"kok ibu-ibu jalannya begitu? kakinya kenapa"
Ibu-ibu pincang: ngelengos sambil jalan terus *maafkan anak saya ya bu, jangan diambil hati*
Ibu-ibu lain: "ih pinter banget, anak siapa nih?"
eni: *pura-pura baca poster di dinding, dalam hati bersyukur itu anak bener2 bukan anaknya dia*
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

*di baby shop*
bunda: "ini mbaknya mana sih?"
Isya: "nih dia nih mbaknya" *sambil nunjuk ibu2 berdandan rapih dan cantik yang tentunya bersa mimpi buruk dituduh mbak-penjaga-toko, oooh semoga ibu2 itu gak terus mengurung diri di kamar sambil berencana operasi plastik*
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Isya: "kok dia enggak pake baju sih? yang lain pada pake baju, dia telanjang tuh" *nunjuk seorang kuli bangunan topless yg lagi ngobrol sama teman2nya, yg tentunya memakai baju semua*
Bunda: purapura gak denger sambil gak berani nengok ke arah para kuli
Isya: mengulangi terus sampai Bunda jawab
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Isya: "eh ada kakek-kakek nda, tuh dia tuh kakek-kakek tuh, dia kakek-kakek sendiri yah" *nunjuk mandor yg emang udah rada tua kalau dibandingin kuli-kuli bangunan di sekelilingnya*
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

*ayah nutup retsleting tas dengan kenceng sampai mengeluarkan suara*
Isya: Ayah kentut yah? iiiih ayah kentut nih, sembalangan aja kentutnya
Ayah: enggaaaak ayah gak kentut *brusaha tegar sambil nurunin volume suara, dengan harapan isya menirunya*
Isya: Ayah kentut! kayak isya yah....ayah suka kentut kayak isya kan?
Ayah: enggak kok...beneran ayah gak kentut *suara mulai lirih pertanda putus asa*
Isya: IIIIh iyaaa ayah kentuuuuut...sembalangan kentutnyaaaaa *volume makin menggelagar*
Bunda: ketawa ngakak ampe lemes
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

*di resto, seorang gadis masa kini berdiri di depan kasir dengan jeans hipster dan kaos yg agak pendek sehingga birthmark di bagian hampir-bokong nya kliatan*
Isya: dia kenapa tuh pantatnya?
Aybund:  *speechless*
Isya: tuh..tuh...dia pantatnya ada apanya tuh *nunjuk2 malahan mau turun dari bangku buat nyamperin si gadis masa kini, seakan2 ngomong dengan suara menggelagar saja masih kurang*
Aybund: mengutuk penemu model hipster

Kebun Favorit Kami

Di Kebun Raya Bogor kemarin.....

Isya: Ayah....Isya mau beli bola *nunjuk tukang bola*
Ayah: Kalau di sini itu gak dijual, buat dipajang!
5 menit kemudian
Isya: Ayah...Isya mau pajangan *nunjuk tukang bola*
Ayah::D


Untungnya, KRB punya segala hal untuk mengalihkan perhatian eneng, bertumpuktumpuk daun kering, tebaran batu di mana-mana, tongkat-tongkat kayu yang panjang, jangan lupa...selokan air!

Di satu sudut, ada kakak-kakak kecil yang main air di selokan, si neng dengan pedenya langsung belok sambil bilang "Isya main sama temen-temen isya dulu yaaah". SKSD Palapa amat sih neeeeeng (Sok Kenal Sok Dekat Padahal Tidak Ada Apa-Apa - kamus besar bahasa gaul 80an Bab V halaman 171)

Tau-tau belok mah udah rumus deh kalau bepergian ke tempat macam gini. Walhasil kita yang baru mendarat di KRB jam 2 siang, ya gak punya banyak waktu buat menjelajah. Paling baru 10% wilayah KRB yang ditelusuri. Secara si neng nelusurinnya 'telitiiiiiii' bener. Apaaaa aja dipegang dulu, dikorek2, tiap batu dipungut, dilempar lagi, gak bisa liat semak2 kudu dilongok. Terus yang paling ngeri, kan ada tuh lembah curaaaaam banget hampir kyak jurang deh. Si Ayah malah ngajakin neng Isya slide di situ, dan cencunyaaaa....si neng mao2 ajah. Tinggal Bunda jejeritan di belakang, mau gak nyusul takut ditinggal sendiri, mau nyusul ngeri boooo :-S....tinggi bangeeeetz *sampe pake z dah tuh*

Sampai akhirnya kita meninggalkan KRB sekitar pukul 5 sore, gak ada cerita lain selain fun n tepaaaarrrrrr.....Ayah minta break dulu, tapi neng cencyu tak mau kompromi. Dia mah kalo gak lari2 which is Aybund mesti ngejar2, ya minta gendong which is Ayah *ayah aja yah gak pake bunda* mesti ngangkat2. Maka opsi duduk2 di rumput sambil beristirahat pun gugur. Mana ada cerita neng mau ikut mensukseskan acara istirahat aybund, di lapangan rumput pula!


*duduk cuma kalau jatoh*


Untunglah di luar ada Delman Istimewa yang siap berkeliling KBR, aaah....solusi yg tepat! Neng minta duduk di samping pak kusir, sambil ngeliatin buntut kuda bergoyang-goyang. Sampai lampu merah si kuda pipis, yang diiringi tatapan menuduh dari pengendara kendaraan bermotor di sekitar kita. Ampuuun teh...kang...eta kuda bukan anak sayah, sumpaaaah...kalo anak saya mah saya pakein pempers, bener dah!

Pas putaran hampir penuh mulai hujan gerimis, begitu sampai di tempat pemberhentian ujan malah jadi deres gilaaaa....hwaaa aybund kabur bawa si neng yang cuma ditutupin baju kotornya. Terus kita neduh deh di plaza apaan tuh, yg keciiiiil banget, yg ada Robinson nya. Di situ sambil nunggu hujan reda niatnya mau makan, agak bingung juga milih, tadinya sih pengen makan yang berhawa2 Bogor gitu, atau ke MP lagi lah paling enggak. Tapi sumpe tuh ujan, badai boooo.....dereeessss....boro2 mau ke mobil. Sempet mau makan di sebuah resto bertuliskan: resto & fried chicken ;))kikikikik....tapi malah jadi bingung liat tulisannya. Akhirnya makan bakmie.... yg mana di Depok mah juga banyaaaaaak..... :D

Selain bakmie nih yah, si ayah juga beli kaos di Robinson, secara bajunya basah gara2 keujanan tadi. Walau akhirnya gak kepake juga, udah keburu kering bajunya pas nungguin ujan. Terus sebelumnya, pas berangkat, saking kelaperan n gak nemu tempat makan, akhirnya kita makan di Pizza Hut deket daerah warung jambu sana. Hmmm....makan pizza n bakmie, serta beli kaos di robinson, sungguh pengalaman ke Bogor yg aneh...... [-)

dokumentasi pengalaman anehnya, sila dilihat disindang....

Kebun Favorit Kami


Di Kebun Raya Bogor kemarin.....

Isya: Ayah....Isya mau beli bola *nunjuk tukang bola*
Ayah: Kalau di sini itu gak dijual, buat dipajang!
5 menit kemudian
Isya: Ayah...Isya mau pajangan *nunjuk tukang bola*
Ayah:


Untungnya, KRB punya segala hal untuk mengalihkan perhatian eneng, bertumpuktumpuk daun kering, tebaran batu di mana-mana, tongkat-tongkat kayu yang panjang, jangan lupa...selokan air!

Di satu sudut, ada kakak-kakak kecil yang main air di selokan, si neng dengan pedenya langsung belok sambil bilang "Isya main sama temen-temen isya dulu yaaah". SKSD Palapa amat sih neeeeeng (Sok Kenal Sok Dekat Padahal Tidak Ada Apa-Apa - kamus besar bahasa gaul 80an Bab V halaman 171).

Tau-tau belok mah udah rumus deh kalau bepergian ke tempat macam gini. Walhasil kita yang baru mendarat di KRB jam 2 siang, ya gak punya banyak waktu buat menjelajah. Paling baru 10% wilayah KRB yang ditelusuri. Secara si neng nelusurinnya 'telitiiiiiii' bener. Apaaaa aja dipegang dulu, dikorek2, tiap batu dipungut, dilempar lagi, gak bisa liat semak2 kudu dilongok. Terus yang paling ngeri, kan ada tuh lembah curaaaaam banget hampir kyak jurang deh. Si Ayah malah ngajakin neng Isya slide di situ, dan cencunyaaaa....si neng mao2 ajah. Tinggal Bunda jejeritan di belakang, mau gak nyusul takut ditinggal sendiri, mau nyusul ngeri boooo....tinggi bangeeeetz *sampe pake z dah tuh*

Sampai akhirnya kita meninggalkan KRB sekitar pukul 5 sore, gak ada cerita lain selain fun n tepaaaarrrrrr.....Ayah minta break dulu, tapi neng cencyu tak mau kompromi. Dia mah kalo gak lari2 which is Aybund mesti ngejar2, ya minta gendong which is Ayah *ayah aja yah gak pake bunda* mesti ngangkat2. Maka opsi duduk2 di rumput sambil beristirahat pun gugur. Mana ada cerita neng mau ikut mensukseskan acara istirahat aybund, di lapangan rumput pula!

*duduk cuma kalau jatoh*


Untunglah di luar ada Delman Istimewa yang siap berkeliling KBR, aaah....solusi yg tepat! Neng minta duduk di samping pak kusir, sambil ngeliatin buntut kuda bergoyang-goyang. Sampai lampu merah si kuda pipis, yang diiringi tatapan menuduh dari pengendara kendaraan bermotor di sekitar kita. Ampuuun teh...kang...eta kuda bukan anak sayah, sumpaaaah...kalo anak saya mah saya pakein pempers, bener dah!

Pas putaran hampir penuh mulai hujan gerimis, begitu sampai di tempat pemberhentian ujan malah jadi deres gilaaaa....hwaaa aybund kabur bawa si neng yang cuma ditutupin baju kotornya. Terus kita neduh deh di plaza apaan tuh, yg keciiiiil banget, yg ada Robinson nya. Di situ sambil nunggu hujan reda niatnya mau makan, agak bingung juga milih, tadinya sih pengen makan yang berhawa2 Bogor gitu, atau ke MP lagi lah paling enggak. Tapi sumpe tuh ujan, badai boooo.....dereeessss....boro2 mau ke mobil. Sempet mau makan di sebuah resto bertuliskan: resto & fried chicken kikikikik....tapi malah jadi bingung liat tulisannya. Akhirnya makan bakmie.... yg mana di Depok mah juga banyaaaaaak.....

Selain bakmie nih yah, si ayah juga beli kaos di Robinson, secara bajunya basah gara2 keujanan tadi. Walau akhirnya gak kepake juga, udah keburu kering bajunya pas nungguin ujan. Terus sebelumnya, pas berangkat, saking kelaperan n gak nemu tempat makan, akhirnya kita makan di Pizza Hut deket daerah warung jambu sana. Hmmm....makan pizza n bakmie, serta beli kaos di robinson, sungguh pengalaman ke Bogor yg aneh......

dokumentasi pengalaman anehnya, sila dilihat disindang....




Monday, March 16, 2009

Dia Korban Iklan

Sama lah sama emakemak kebanyakan, pengennya anak gak terlalu sering nonton TV. Kalau di rumah sendiri sih aman, pas gadis kecil itu lagi di depan TV, cuma boleh stel DVD....tentu bukan koleksi aybundnya *wink wink* Atau kadang2 ikut nonton bola sama si ayah, walaw tentunya rumus semenit-bosen mah udah pasti.

Sayangnyaaaaa......bundanya neng masih blom bisa mendampingi 24/7. Secara bundanya masih bekerja keras membanting tulang *beneran ini, emang sisa tulang doang* dan sesekali juga ngambas *kikikikikik* jadi si neng sehari-hari ya sama Eni. Dari jaman dahulu kala, si Eni seperti juga enieni kebanyakan, TVnya hampir selalu dalam keadaan nyala. Pelan2 sih bisa dibilangin, setidak2nya memilih channel yg gak nongolin adegan2 'aneh' buat si neng. Namun apa daya, efek-efek seperti ini terjadi juga.

Neng nyanyi lagi 'kasih ibu' full....
neng: "...bagai sang surya menyinari dunia"
bunda: plok...plok...plok...."iiih neng hebaaaat i'm so proud of you"
neng: "terimakasih ibuuuu" sambil membentuk segitiga dengan dua jari jempol dan telunjuknya di atas kepala
bunda: /:) *ngelirik SBY minta jatah*


Perjalanan pulang dari rumah Eni. Neng berdiri di motor sambil dadah2 sama semua orang yang dia liat
neng: bye.....bye....bye......beabeabeku lancaaaaarrrrrrr *sambil dadah2 ala miss universe* B-)
aybund: :D


suka-suka tau-tau....
neng: "kamu yang setan! taksi popok dinaekin!"
pernah juga gini....
bunda: isya cantik
neng: kata eni isya jelek
bunda: eni bohong! isya cantik
neng: eni bohong! isya cantik.....eni yang jelek! taksi popok dinaekin"

update: sekarang bilangnya udah "taksi mogok" itu kemajuan apa bukan yah :D


*nangis sadar kamera*

Friday, March 13, 2009

Dia korban iklan

Sama lah sama emakemak kebanyakan, pengennya anak gak terlalu sering nonton TV. Kalau di rumah sendiri sih aman, pas gadis kecil itu lagi di depan TV, cuma boleh stel DVD....tentu bukan koleksi aybundnya *wink wink* Atau kadang2 ikut nonton bola sama si ayah, walaw tentunya rumus semenit-bosen mah udah pasti.

Sayangnyaaaaa......bundanya neng masih blom bisa mendampingi 24/7. Secara bundanya masih bekerja keras membanting tulang *beneran ini, emang sisa tulang doang* dan sesekali juga ngambas *kikikikikik* jadi si neng sehari-hari ya sama Eni. Dari jaman dahulu kala, si Eni seperti juga enieni kebanyakan, TVnya hampir selalu dalam keadaan nyala. Pelan2 sih bisa dibilangin, setidak2nya memilih channel yg gak nongolin adegan2 'aneh' buat si neng. Namun apa daya, efek-efek seperti ini terjadi juga.

Neng nyanyi lagi 'kasih ibu' full....
neng: "...bagai sang surya menyinari dunia"
bunda: plok...plok...plok...."iiih neng hebaaaat i'm so proud of you"
neng: "terimakasih ibuuuu" sambil membentuk segitiga dengan dua jari jempol dan telunjuknya di atas kepala
bunda: *ngelirik SBY minta jatah*


Perjalanan pulang dari rumah Eni. Neng berdiri di motor sambil dadah2 sama semua orang yang dia liat
neng: bye.....bye....bye......beabeabeku lancaaaaarrrrrrr *sambil dadah2 ala miss universe*
aybund:


suka-suka tau-tau....
neng: "kamu yang setan! taksi popok dinaekin!"
pernah juga gini....
bunda: isya cantik
neng: kata eni isya jelek
bunda: eni bohong! isya cantik
neng: eni bohong! isya cantik.....eni yang jelek! taksi popok dinaekin"

update: sekarang bilangnya udah "taksi mogok" itu kemajuan apa bukan yah


*nangis sadar kamera*

Tuesday, March 3, 2009

Akhirnya Berantem Juga

Sudah hapal kan cerita ini? :D Akhirnya, setelah sekian lama berada di bawah tekanan, Fadia *ternyata namanya Fadia sawdara-sawdara :D* mulai kehilangan kesabaran.

Seperti diceritakan sebelumnya, si neng mah suka keterlaluan, mainannya Fadia dia kuasain, sementara dianya sendiri pelit setengah mati. Sebelumnya Fadia selaluuuu ngalah, Bunda malah pernah liat Fadia ngelepas sendal yang dia pakai gara2 si neng pengen pinjem #-o Udah berkali2 diajarin soal konsep sharing, ternyata belum 100% berhasil.

Hingga akhirnya.....

Fadia n Isya lagi main di teras rumah Eni. Semua mainannya Fadia dikuasai Isya. Ngeliat bukunya Isya, Fadia rupanya tertarik, terus langsung diambil. Neng Isya kambuh posesifnya, langsung ngerebut bukunya dengan paksa sambil teriak "Punya Isya!" Fadia kontan nangis kejer :(( terus langsung nyubit pundak isya, yang tentunya disusul dengan tangisan kejer isya :(( Eni n nyokapnya Fadia yg misahin bersaksi, tuh anak dua2nya gak ada yg mau ngelepas, yg satu ogah ngelepas buku, yg satu ogah ngelepas cubitan. Untunglah adegan tersebut berakhir dengan: "mahafkan isya yah...." "iya maaf juga"

Pulang kerja, berdasarkan laporan Eni tersebut, Ayah menginterogasi Isya

Ayah: Isya berantem ya sama Fadia?
Isya: *purapura gak liat, ngajak ngomong yang lain, sok sibuk sama mainannya*
Ayah: Isya gak boleh pelit ya, kan kalau main sama2 harus sharing
Isya: Fadia yang nakal, Isya enggak cubit dia nangis
Eni: Makanya Isya jangan pelit, Fadia kan cuma mau pinjem mainan
Isya: Itu buku! bukan mainan! [-)

fiuuuuuh....perjalanan materi sharing masih panjang kyknya... #:-S

Monday, March 2, 2009

Akhirnya Berantem Juga

Sudah hapal kan cerita ini Akhirnya, setelah sekian lama berada di bawah tekanan, Fadia *ternyata namanya Fadia sawdara-sawdara* mulai kehilangan kesabaran.

Seperti diceritakan sebelumnya, si neng mah suka keterlaluan, mainannya Fadia dia kuasain, sementara dianya sendiri pelit setengah mati. Sebelumnya Fadia selaluuuu ngalah, Bunda malah pernah liat Fadia ngelepas sendal yang dia pakai gara2 si neng pengen pinjem *nepok jidat* Udah berkali2 diajarin soal konsep sharing, ternyata belum 100% berhasil.

Hingga akhirnya.....

Fadia n Isya lagi main di teras rumah Eni. Semua mainannya Fadia dikuasai Isya. Ngeliat bukunya Isya, Fadia rupanya tertarik, terus langsung diambil. Neng Isya kambuh posesifnya, langsung ngerebut bukunya dengan paksa sambil teriak "Punya Isya!" Fadia kontan nangis kejer, terus langsung nyubit pundak isya, yang tentunya disusul dengan tangisan kejer isya. Eni n nyokapnya Fadia yg misahin bersaksi, tuh anak dua2nya gak ada yg mau ngelepas, yg satu ogah ngelepas buku, yg satu ogah ngelepas cubitan. Untunglah adegan tersebut berakhir dengan: "mahafkan isya yah...." "iya maaf juga"

Pulang kerja, berdasarkan laporan Eni tersebut, Ayah menginterogasi Isya

Ayah: Isya berantem ya sama Fadia?
Isya: *purapura gak liat, ngajak ngomong yang lain, sok sibuk sama mainannya*
Ayah: Isya gak boleh pelit ya, kan kalau main sama2 harus sharing
Isya: Fadia yang nakal, Isya enggak cubit dia nangis
Eni: Makanya Isya jangan pelit, Fadia kan cuma mau pinjem mainan
Isya: Itu buku! bukan mainan!

fiuuuuuh....perjalanan materi sharing masih panjang kyknya....