Medan Trip

Kalau ke Banyuwangi lalu terasa begitu panas terik musim kemarau maka kebalikannya dengan trip ke Medan ini yang basah musim hujan. Oktober kan memang termasuk bulan ber ber ber yang seharusnya sudah musim hujan ya?

Itinerary Medan sangat padat, bernafas saja sulit (kala itu). First flight lanjut dijemput mitra kerja untuk kunjungan lapangan ke beberapa lokasi. Lucunya atau eneg bosan? kami selalu disuguhi nasi padang selama kunjungan. Dari yang pertamanya excited sampai please adakah makanan lain?

Ada pula saya wara-wiri Medan – Kualanamu untuk menjemput pakbos, yah lumayan bisa sarapan lontong Medan di pinggir jalan sebelum masuk tol, jajan kopi promo ovo di maxx coffee. Padahal saya gak terbiasa mengikuti protokol menjemput atasan tapi lain ladang lain belalang kan maka saya ikuti saja kebiasaan di sini.

Best thing on Medan trip adalah makan seafood di Wajir Seafood dan Duren Ucok. Mantaplah rasanya boga bahari di Wajir. Duren Ucok pun, tapi saya gak berani banyak-banyak. Inget umur. Wkwkwk.

Seperti disebutkan sebelumnya, itinerary padat padahal ini kali pertama saya ke Medan tapi tidak sempat mengunjungi tempat ikonik di Medan seperti Istana Maimun atau Rumah Tjong A Fie. Cukup terpuaskan dengan kunjungan toleransi agama ke Gereja Katolik Graha Maria Annai Velangkani yang dari fasad bangunan seperti pura ternyata adalah gereja. Kami diterima oleh romo yang berasal dari India dan diajak house tour sambil diceritakan filsafat dari lambang-lambang yang ada di bangunan.

Indahnya keberagaman…

Banyuwangi Trip

Ini pun latepost tapi dibikin backdate. Hihihi.

Akhirnya ya bucket list orang-orang keceklis juga. Ya soalnya saya gak punya bucket list. Kaburrr…

November 2019 kami ke Banyuwangi, rombongan besar tapi agenda beda-beda lah. Tiba di Banyuwangi langsung dibuat terpesona dengan bandaranya yang Indonesia modern minimalis gitu, ya karya Andra Matin gitu loh. Kami menginap di hotel dekat bandara. Sebelum sampai di hotel kami brunch di sebuah restoran yang instagramable (lupa namanya) tapi saya pesan makan yang aman saja padahal penasaran dengan rujak soto dan nasi tempong. Sekarang nyesel deh.

Setelah kunjungan lapangan selesai tapi harus standby di acara berikut maka kami curi-curi kesempatan untuk ke obyek wisata. Eh ternyata saya jadinya dua kali ke Boom Marine Park Banyuwangi. Hehehe.

Sebenarnya saya juga tergoda untuk mendaki Gunung Ijen, siapa juga yang gak pengen lihat bluefire? tapi mendengar cerita dari teman-teman yang duluan ke sana dan merasakan keletihan serta membayar jasa ojek gerobak, saya jadi skip deh. Gak enak kan kalau nanti jadi menyusahkan orang lain? eh alasan lain sih sayang juga bayar jasa ojek gerobaknya.

Keesokan harinya full day trip ke Taman Nasional Baluran dan De Jawatan.

Taman Nasional Baluran. Pagi saja sudah terik, sejauh mata memandang adalah rumput dan pepohonan yang menguning, tanah pecah-pecah tanda kemarau. Sayangnya kami hanya sedikit menjumpai hewan penghuni taman nasional ini. Di dalam Taman Nasional Baluran kami mampir ke hutan mangrove dan pantai Bama. Yah namanya pergi berramai-ramai ya pastilah sibuk foto-foto dan tidak sempat eksplorasi.

De Jawatan. Mungkin karena kami berkunjung saat musim kemarau sehingga terlihat kurang hijau, kurang rimbun mana di beberapa spot masih ditemui sampah yang dibuang sembarangan oleh pengunjung, lalu kubayangkan hutan ini bersuasana teduh senyap eh rame saja dong. Susahnya wisata di negara +62 memanglah.

Mungkin full day trip ini agak mengesalkan buatku karena kebagian operator travel yang gak welcome, sibuk sendiri, modal tampang. Hadeh kalau diingat bikin sebel.

Oiya, selain itu teman-teman yang lain mengunjungi Alas Purwo. Hiii… sejak booming cerita KKN Desa Penari tuh kan jadi keluar hawa parno mistis. Tapi kata teman-teman yang ke sana sih biasa saja kok.

Menurutku wisata Banyuwangi ini untuk masyarakat kalangan menengah ke atas mengingat harga hotel, kuliner dan oleh-oleh cukup mahal tapi obyek wisata alam yang ditawarkan cukup menarik dan beragam. Oiya jangan lupa cocokkan waktu kunjungan dengan agenda festival yang ada hampir sepanjang tahun.

For The Love of Splashing Water

Bocils sudah memasuki masa mandi bila dibutuhkan saja. Ini beneran bocils super malas, mandi cuma sekali sehari itu pun ditengah hari. Ya gapapa juga karena kalau di kampung berlaku seperti itu alasannya cai tempat mandi jauh, udaranya dingin. Ya siapa tau nanti tinggal di negara 4 musim sudah siap ya. Wkwkwk.

Kalau mandi shower ada yang nangis-nangis takut kena mata. Eh sebenarnya sudah lumayan karena sebelumnya harus mandi pake air hangat terus, sekarang sudah mau mandi air dingin. Tapi ngerecokin bundanya mandi karena maunya mandi bareng 2 bocils ini.

Bunda bilang terserah mau mandi berapa lama di hari libur tapi kalau hari sekolah no way. Kejadianlah tadi pagi karena mau mandi saja pake acara ngambek karena #3 digodain #2, disamperin dululah biar mau, ritual mandi 2 bocils ini lama deh.

Anak perempuan tuh mandi x steps, body & skin care x steps, dandan x steps biar shining, shimmering, splendid ✨

Malas mandi ini berbanding terbalik dengan berenang. Wuih bocils semangat semua kalau diajakin berenang. Saking dekatnya tempat berenang dari rumah, gak pake mandi dulu. Mandinya belakangan.

Foto di atas sih pas ditawarin berenang gratisan. Ya gak mau nolak meskipun repot bawa buntelan dari rumah mana selesai berenang masih mampir ke tempat les.Oiya pasca mandi atau berenang, bocils selalu kelaparan. Kalau di rumah langsung deh request makanan atau mulai sibuk DIY bikin telor omelet, dll.

Lulus Kuliah?

Informasi pengumuman kelulusan adalah tanggal 18 September 2019 tapi saya bingung lihat di mana pengumumannya? Maklumlah mahasiswi kuper. Hehehe. Ternyata ada sub web sendiri untuk informasi pengumuman.

Alhamdulillah namaku terjaring untuk yudisium. Yeay. Langkah selanjutnya adalah isi formulir untuk keperluan ijazah. Persoalannya gak punya pas foto terkini. Lalu saat pelatihan kemarin pun butuh pas foto, yasudah sekali dayung dua tiga pulau terlampaui. Bikin pas foto di Cemerlang Foto Margonda sepulang dari pelatihan, cuma menunggu setengah jam. Awalnya mau bikin di dekat rumah tapi pulang malam, capek dan mepet.

Setelah dokumen persyaratan dipenuhi, bagian malas lainnya adalah ke kantor UPBJJ UT Jakarta. Benar saja sampai di sana, petugas di counter depan sudah tidak ada dong entah istirahat duluan apa gimana. Untung masih ada petugas yang membantu walaupun jutek sedikit. Hahaha… jelas saja dijutekin karena mahasiswa macam apa gak punya kartu mahasiswa? KTM saya hilang saat dompet saya dicopet di Pasar Tanah Abang, malas mengurus penggantian kartu toh selama ujian gak ditanya/ditunjukin (jangan ditiru ya…). KTM sementara saat awal registrasi kuliah gak sempat dicari dan dibawa. Modal memohon secara halus ke petugas untuk minta diprint KTM sementara daripada ngeyel ribut malah nanti gak dilayanin.

Alhamdulillah lagi, proses penyerahan formulir dan dokumen cepat. Sempat khawatir karena pengajuan hari Jumat dan menjelang jam istirahat, bisa rugi bandar datang lagi ke sana. Pesan petugas adalah untuk rajin cek website UPBJJ UT Jakarta untuk mendapatkan informasi kapan wisuda dan ada proses lanjutannya. Oke deh. Semoga bisa ikutan wisuda di bulan November 2019.

 

 

 

 

 

3 Hari Pelatihan di Vokasi UI

Tanggal 24 – 26 September 2019, 3 hari pelatihan di Vokasi UI. Ternyata memang selalu ada jalan ke UI. Walaupun saya bukan anak UI tapi teman kantor banyak yang anak UI dan kali ini berkesempatan mengikuti pelatihan yang diadakan oleh kantor bekerjasama dengan Vokasi UI.

Jadilah saya pertama kali masuk ke kawasan UI Depok. Luas sekali kampusnya, ada danau, pepohonan di pinggir jalan kecil, kalau jalan kaki gempor juga. 3 hari yang melelahkan karena berangkat pagi naik commuterline dari Rawabuntu – UI/Pocin sambung ojol. Di hari terakhir malah pulang ngojol ke rumah dan paginya ngojol lagi ke Depok demi bisa sampai lebih awal di hari ujian sertifikasi. Damn u unjuk rasa yang mengganggu fasilitas umum.

Tapi lumayan juga, 3 hari me-refresh pelajaran zaman kuliah dulu. Zaman teori berbeda dengan praktek. Ada beberapa materi yang out of date tapi masih ada nilai-nilai yang perlu diterapkan. Pelatihan ini bersama sesama TU senior dan pengajarnya pun golongan baby boomers 😬.

Coba renungkan: mereka maunya punya kantor kayak google tapi mempermasalahkan pegawai milenial yg bajunya kayak ke mall.

Action plan nyata dari saya sesudah mengikuti pelatihan adalah beli pantofel 😂 ya buat punya-punya saja karena terbiasa outfit kantornya santai dan nyaman.

Temu Kangen Teman SMP

Tanggal 19 – 21 September 2019 lalu, saya ada DLK ke Purwokerto mewakili pakbos PPK. Ternyata sulit mencari hotel pada tanggal tersebut, terpaksa beda hotel dengan tempat rapat, masih satu garis lurus sih lagipula Purwokerto itu kota kecil berdenah kotak-kotak gampang dijangkau antar tempat.

Mumpung di Purwokerto ya langsung mengagendakan untuk meet-up dengan teman-teman SMP. Pas lebaran lalu sebenarnya ada reuni SMP tapi saya gak bisa ikut. Untungnya teman semeja dari kelas 1 & 2 sedang berada di Purwokerto. Kalau gak ada Vitos mungkin saya akan canggung bertemu dengan teman lainnya yang kebanyakan lupa namanya.

Sebagai lulusan SD kampung yang hijrah ke kota Purwokerto awalnya banyak mengalami kesulitan bergaul. Alhamdulillah teman SMP heterogen dan baik-baik.

Olokan datang dari luar yang menyebut kami, anak SMP 7 Purwokerto sebagai SMP pacul, ndeso, SMP mewah (mepet sawah). Dulu sih minder dan kesal tapi sekaligus terpicu untuk melawan dengan belajar sehingga bisa masuk ke SMU 1 Purwokerto ya walaupun batas bawah. Hehehe.

Masa SMP adalah masanya ngebolang sepedaan dan baca komik bareng Vitos dari kelas 1 dan 2. Begitu kelas 3 beda kelas dan mulai berpisah. Gak tau yah dulu tuh namanya juga remaja.

Awal era Friendster lanjut Facebook aku search namanya tapi kok gak nemu akunnya. Tahun 2019 akhirnya bertemu di dunia maya dengan grup wa yang woles.

Hasil ngobrol saat meet-up di Bakso Sami Asih II memberikan hikmah bahwa sekalipun jalan hidup kami berliku tak perlu disesali, sekarang jalani saja dengan bersyukur. ❤️❤️❤️.

Selain meet-up, saya dan Vitos juga menyusuri tempat penuh kenangan di Purwokerto. Pertama tentunya ke Toko Aroma, niatnya makan burger legendaris etapi karena kesorean gak kebagian. Lalu menyusuri jalan hingga ke Kebondalem, makan es krim brazil, beli perabotan di Toko Hero (dasar emak-emak). Balik lagi ke Toko Aroma untuk beli oleh-oleh dan ditutup dengan makan soto ayam Sungeb.

Terima kasih juga untuk Slamet yang mengantarkan pulang dari warung bakso dan juga Alfian yang mau direpotin buat bawa mendoan dan dages mentah. Terbaik memang kalian semua.

Melawi – Sintang Trip

Di manakah letak Kabupaten Melawi dan Kabupaten Sintang? Yang jawab Provinsi Kalimantan Barat, kalian benar! silakan jajan sendiri di indomaret. Wkwkwk.

DLK ini sangat menguji kesabaran, makanya latepost (September 2019) tapi backdate biar urut. 3 hari yang saya coba untuk menjaga ucapan, menahan sambat, dan membanding-bandingkan.

Minggu kami berangkat dengan rute penerbangan CGK – PNK lanjut PNK – SQG. Seperti diketahui, September 2019 wilayah Kalimantan (khususnya Pontianak – Palangkaraya) mengalami musibah kabut asap dan penerbangan lanjutan kami dari Pontianak ke Sintang pun mengalami gangguan sehingga pesawat yang kami naiki kembali lagi ke Pontianak. Asli saya dalam perjalanan tidur pulas dan samar-samar terdengar suara pengumuman dari pramugari/pilot bahwa pesawat kembali lagi berarti saya numpang tidur doang dong di pesawat?

Sambil menunggu kepastian, kami sempatkan makan siang yang tertunda di CFC Bandara Supadio. Sungguh itu CFC terenak yang pernah kurasakan. Setelahnya kami sempatkan pula jajan Kopi Aming sebelum jemputan datang. Yup, kami putar haluan berganti menempuh jalan darat menuju Sintang.

Sepertinya waktu itu kami jalan sore hari dan tiba di Melawi sudah tengah malam. Perjalanan yang melelahkan, sepanjang jalan gelap tapi ternyata ada motor di depan mobil. Kebiasaan orang sana nih, naik motor lampu belakangnya mati. Haduh, bahaya kan.

Loh kok Melawi bukan Sintang? Jangan bingung, tujuan utama memang ke Melawi tetapi yang ada bandara adalah Sintang. Cukup dekat kok kedua kabupaten ini sekitar 2 jam perjalanan darat.

Di Melawi kami diterima oleh Bupati dan istri di rumah dinas mereka. Melawi adalah pemekaran dari kabupaten Sintang, sudah 15 tahun yang lalu tapi sayangnya masih termasuk dalam daerah 3T. Semoga terkejar ya ketertinggalan selama ini, saya amati ibu Bupati orang yang smart dan peduli dengan warganya.

Lanjut dari Melawi kami menuju Sintang, lokasi kunjungan lapangan kami adalah sekolah di Kelam Permai. Aneh ya kelam tapi kok permai? Kelam Permai terletak di pinggir Kabupaten Sintang, Provinsi Kalimantan Barat. Awal perjalanan biasa saja sampai kami melihat bukit batu besar yang menyerupai mangkuk terbalik. Oh itu namanya Bukit Kelam. Kelam itu hitam ya, bukan suram. Sepulang dari kunjungan di sekolah tersebut, ternyata kabut asap sudah mulai nampak. Waduh, bagaimana dengan return flight kami?

Terpaksalah, kami batalkan return fligt SQG – PNK dan kembali menempuh jalan darat yang sama seperti saat pertama kami datang, bedanya sekarang berangkat pagi hari jadi terlihatlah pemandangan sepanjang perjalanan yang ternyata menyusuri Sungai Kapuas. Kami sempat singgah untuk beristirahat di Puncak Kapuas. Selebihnya ya tertidur dalam perjalanan.

Setiba di Bandara Supadio Pontianak sambil menunggu boarding, kami urus refund tiket dsb tak lupa minum kopi Aming dulu. Saya pun beli oleh-oleh bubuk kopinya.

Semoga, ke depannya saya bisa mampir ke Kota Pontianak. Aamiin dulu saja.

Ghita Les Gambar

2 Februari 2019, pertama kali Ghita mengikuti les gambar di Hadiprana Art Center Alam Sutera.

Selain dorongan dari kakak ipar agar Ghita mengeksplor bakatnya, memang kami sudah berniat memasukkan Ghita ke les gambar tapi tau sendiri kan mencari tempat les gambar yang sesuai juga gampang-gampang susah. Kami pun hanya sempat mencari tempat les secara online, baik bertanya langsung ke beberapa tempat les gambar ataupun referensi dari teman-teman. Ada sih inceran art class tapi jauh di Jakarta jadi terpaksa dicoret dari daftar padahal tempat les Hadiprana ini juga bisa dibilang tidak dekat karena dari ujung ke ujung tapi paling tidak masih sama-sama Tangerang 😀

Sejak itu dimulailah rutinitas les di hari Sabtu dan Ghita masih perlu dijaga moodnya karena harus menempuh perjalanan jauh. Alhamdulillah sekarang sudah ada kemajuan dalam menggambar dan selalu gak sabar menunggu Sabtu tiba. Yeay!

Beberapa hasil karyanya Ghita saya posting di akun instagram @vgharts. Sengaja saya bikin akun khusus tentang bocils dan semoga istiqomah untuk posting karya seni yang mereka buat atau pengalaman bocils yang berkaitan dengan seni.

Hadiprana Art Center - Alam Sutera
Ruko Prominence 38F/66
Alam Sutera, Tangerang
T. (021) 3005-2655 HP 0877-8008-8796

 

 

Art Jakarta 2019

 

Art Jakarta yang terakhir kami kunjungi ternyata tahun 2017, waktu itu masih gratis dan bertempat di The Ritz Carlton Hotel Pacific Place.

Art Jakarta 2019 berbayar dan berlokasi di JCC. Rp 100.000 untuk pengunjung dewasa dan Rp 50.000 untuk pengunjung anak-anak di bawah usia 12 tahun. Jadi lumayan ya ongkos menikmati seni kontemporer ini. Hehehe.

Oiya, sebenarnya agak beresiko juga mengajak anak ke acara ini karena harus menjaga mood agar tetap menikmati karya seni yang ada. Maka saya daftarkan sebelum acara dimulai untuk mengikuti workshop: “mask painting with Eko Nugroho Art Class”. Untungnya sudah pernah menggambar topeng di tempat les jadi gak kagok amat.

Setelah acara workshop selesai dan belanja art supply di booth tersebut, mulailah berkeliling venue dan ramai dong dengan pengunjung. Sempat khawatir anak-anak menyenggol art installation. Aduh mak, gak sanggup ganti ruginya.

Jadi apa saja yang menarik perhatian di Art Jakarta 2019?

Cheuk Wing Nam, seniman Hong Kong dengan instalasi ruang “Silence – Meditation in Blue” yaitu ruang bercahaya biru dengan kipas hexos yang dinyalakan dan disalurkan melalui pipa sehingga menghasilkan suara-suara. Cuma sebentar dalam ruang tersebut, belum bisa memaknai silence – meditation yang dimaksud sang seniman.

Wave of Tomorrow: Isha Hening, panel LED yang diletakkan di lantai catwalk. Sayangnya anak-anak dilarang menginjaknya jadi skip.

Ada juga instalasi seni yang menggambarkan kehidupan sosial media seperti instagram live, betapa kita menaruh harapan pada banyaknya likers, dll.

Mohon maaf nih gak bisa banyak diceritakan pengalaman art jakarta 2019 ini. Semoga membekas dalam benak bocils dan membuka cakrawala baru mereka.

 

 

Jambi – Kupang – Surabaya Trip

Dulu kan bertekad dalam hati mau rajin nulis setiap DLK tapi sekarang yagitu deh namanya juga kerja pasti akan membosankan untuk diceritakan 😅

3 kota ini dikunjungi dalam jeda waktu cukup lama ya. Disclaimer buat menangkis komentar, “enak jalan-jalan mulu” karena percayalah masih banyak yang lebih sering jalan daripada saya 😂.

Jambi

Ini kunjungan kedua, pas bulan puasa, bandaranya sedang renovasi. Dulu pernah pas hamil mbak Ghita dan ketemu sama Zumi Zola zaman belum jadi gubernur (penting yha diceritain mulu). Kunjungan kemarin itu kami ke Kabupaten Batanghari, dari kota Jambi sekitar 2 jam perjalanan darat. Melalui jalan pintas kompleks perumahan Ciputra yang sudah dibeton rapi karena kalau jalan umumnya masih jelek. Sesudah itu melewati kebun kelapa sawit, sisanya ngantuk.

Memorable momentnya adalah saat berbuka puasa. Alhamdulillah hidangan yang disajikan enak-enak.

Kupang

Literally Far From Home

Ini perjalanan DLK pertama saat pindah unit kerja, ya ditawarin masa nolak? belum pernah juga. Ternyata di sini senang di awal sengsara kemudian. Mau tau?

Awalnya senang sempat kuliner seafood dan nonton Spider-Man: Far From Home di Cinemaxx Kupang sebelum besok seharian keliling. Di hari pertama keliling pun memberikan pengalaman baru karena mengunjungi sekolah menengah dan hidangan khasnya sungguh enak yaitu singkong rebus dan pisang rebus dicocol sambal dabu daun ketumbar.

Sengsaranya di mana? entahlah karena sempat telat makan, pengaruh cuaca, atau ada perisa yang tidak cocok diperutku sehingga hari berikutnya cuma bisa setengah jalan dan tumbang istirahat di hotel. Saya merasa tidak enak hati dengan tim lainnya karena tidak bisa ikut keliling.

Pas kembali ke Jakarta pun kepala masih terasa berat belum pulih etapi nekad juga karena setelah sampai di pool PPD, naik gojek ambil motor di stasiun lalu ke Alam Sutera buat cek bocils yang sedang nonton.

Surabaya

Nasi Krawu Gresik
Ngiler…

Tujuan utama adalah kondangan ke Gresik. Begitu mendarat langsung ke hotel untuk touch up sebelum cuss ke gedung resepsi. Surabaya – Gresik panas ya, perjalanan di tol mirip seperti di Priok.

Selama di Surabaya, kami menginap di hotel dekat mall terlama dan terbanyak. Beginilah anak kota gak bisa lepas dari mall dan rela menyiksa diri antri beli minuman padahal ada gerai lain yang lebih sepi. Zzzz… Aku pun sukses belanja buat sendiri dan anak-anak.

Urusan kerjaan kebagian di Sidoarjo dan Madura. Yeay! merasakan juga menyeberangi jembatan Suramadu dan makan bebek Sinjay yang tersohor yang porsi nasinya jumbo dan sambal mangga yang asem pedas tapi aku masih tim bebek Slamet nih.

Oiya kulineran Jawa Timur ini cocok banget buat pencinta daging ya, di Gresik kami makan nasi krawu yaitu nasi rames ala Gresik tapi isiannya tuh potongan daging sapi dan serundeng. Kok ya lupa cari makan gado-gado khas Surabaya atau pecel sayurnya.

Sempat terpikir kenapa gak Madura saja yang dijadikan ibu kota negara baru? karena sepanjang perjalanan masih banyak tahan kosong di kanan dan kiri jalan. Yeee… kosong bukan berarti gak ada yang punya, sis!

Begitulah cerita perjalanan 3 kota, mohon maaf foto makanan semua karena gak sempat jalan-jalan 😂 semoga sehat selalu ya~