KOMPPI Art Space,  Nafas Baru Seni di Tamini Square

Standard

Ada yang Baru di Tamini Square lho!
Yaitu sebuah ruang kreatif bagi bagi para seniman untuk berkarya, memajang karya, menjual, belajar, berdiskusi dan saling menginspirasi. Ruang kreatif ini bernama KOMPPI Art Space yang dikelola oleh Komunitas Perupa Perempuan Indonesia (KOMPPI) dan dibuka oleh Bapak Eddy Muhammad Ikhsan, Mall Director dari Tamini Square pada hari Senin, tanggal 19 Januari 2026.

Terletak di lantai dasar, tepatnya di depan Solaria, saat pembukaan kemarin, KOMPPI Art Space terlihat sangat ramai. Ada sekitar 60 an karya berbagai ukuran dan genre lukisan dipajang di sana untuk periode Januari 2026 ini, yang merupakan karya dari 17 perupa anggota komunitas ini, yaitu : Indah Soenoko, Titiek Ndary, Anna Rayung, Ni Made Sri Andani, Retno  Pamedarsih, Novandi, Eddy Yoen, Gusti, Ellies, Sari, EnS, Gini, Poppy A, Jeanne, Yudith , Apry, Toeke.

Sebagian dari lukisan yang dipajang di KOMPPI Art Space, Tamini Square Mall. Foto : KOMPPI

Saat ini, KOMPPI memiliki sekitar 70 an anggota yang akan secara bergilir memajang karyanya di KOMPPI Art Space.
Rotasi karya rencananya akan dilakukan setiap bulan,  agar pengunjung mall bisa menikmati karya- karya segar terbaru dari para perupa anggota komunitas ini.

Sebagian dari lukisan yang dipajang di KOMPPI Art Space Tamini Square Mall. FotoKOMPPI.

KOMPPI Art Space juga berencana akan menerima pesanan lukisan, sketsa, drawing ataupun jenis karikatur di tempat dan les atau kursus melukis.  Dan secara berkala akan mengadakan aktifitas seni seperti workshop melukis,  lomba menggambar atau nengadakan pameran seni rupa yang diharapkan bisa meningkatkan kwalitas kesenian dan interaksi seniman dengan masyarakat pengunjung mall Tamini Square.  Ini sejalan dengan misi dari Tamini Square Mall untuk menjadikan mall ini sebagai tempat yang mensupport pendidikan dan pembelajaran di mall.

Dalam sambutannya, Ibu Indah Soenoko selaku Ketua Umum KOMPPI mengucapkan terimakasih kepada pihak Manajemen Tamini Square Mall yang telah memberikan tempat bagi para perupa perempuan Indonesia untuk berkarya, berkreasi, memajang karya serta berinteraksi dengan masyarakat luas pengunjung mall.

Sebagai bentuk apresiasi dan terimakasih kepada, Tamini Square yang telah memberikan space, KOMPPI menyerahkan bingkisan berupa lukisan Penari Legong Keraton karya Ni Made Sri Andani dengan media acrylic di atas kanvas berukuran 80 x 60 cm.

Penyerahan lukisan Penari Legong Keraton dari KOMPPI kepada Manajemen Tamini Square Mall.  Foto KOMPPI

“Semoga dengan adanya KOMPPI Art Space ini dan aktifitasnya, bisa memberikan warna tersendiri bagi Tamini Square Mall, dan memberikan manfaat bagi kedua belah pihak. Tamini Square maupun KOMPPI sama-sama diuntungkan” ujarnya.

Sementara itu, Eddy Muhammad Ikhsan, Mall Director Tamini Square menyampaikan dukungan seluas-luasnya kepada Komunitas Perupa Perempuan Indonesia yang akan mengelola space seluas kurang lebih 200 meter persegi di lantai dasar di depan Solaria. Pada dasarnya Manajemen Tamini Square mendukung semua komunitas yang sejalan dengan tujuan Tamini Square Mall menjadi pusat edukasi dan gaya hidup di Jakarta Timur.

Eddy Muhammad Ikhsan, Mall Director Tamini Square meninjau lukisan -lukisan yang dipajang di KOMPPI Art Space. Foto: KOMPPI.

“Kami juga sangat gembira, diberi kesempatan untuk bekerjasama dengan KOMPPI, dengan memberikan tempat bagi KOMPPI Art Space yang merupakan wadah bagi seniman untuk beraktifitas, menjadi ajang perupa untuk berkarya dan memajang karyanya”  ujarnya.

Sebagian dari 10 karya lukisan kopi  terbaik . Foto KOMPPI

Eddy Muhamnad Ikhsan berharap, agar aktifitas KOMPPI Art Space di Tamini Square Mall ini bergaung lebih luas. Ia juga berharap suatu saat nanti seluruh area atrium bisa digunakan untuk aktifitas kesenian dan edukasi, yang disambut oleh para perupa dengan penuh antusias.

Sebagian dari 10 pemenang lukisan kopi terbaik. Foto KOMPPI

Acara pembukaan KOMPPI Art Space dimeriahkan dengan workshop melukis dengan media kopi, yang dimentori oleh srniman Titiek Sundari, Eddy Yoen, Indah Soenoko, dan Novandi diikuti oleh sekitar 70 orang peserta, dimana sebagian diantaranya berhasil menyelesaikan karya-karya yang indah -indah hanya dalam waktu 2 jam. Sepuluh lukisan yang terpilih oleh mentor sebagai dewan juri hari itu mendapatkan serifikat dan bingkisan dari KOMPPI.

Suasana worksop melukiscdengan kopi di KOMPPI Art Space. Foto KOMPPI.

Selain itu persembahan tarian tradisional Papua yang sangat indah dan enerjetik juga sangat menghibur hati pengunjung mall siang itu.

Yuk kita datang berkunjung ke KOMPPI Art Space di Tamini Square. Saksikan langsung karya-karya  terbaru dari para seniman perupa perempuan Indonesia yang sangat indah dan bagus untuk dikoleksi. Untuk menghiasi ruang tamu, ruang keluarga, ruang tidur, ruang makan maupun dapur. Atau barangkali ada yang ingin memberikan kado ulang tahun, kado perpisahan, dan sebagainya, yang keren dan beda. Lukisan yang indah dari KOMPPI Art Space di Tamini Square Mall  adalah solusi yang tepat.

Seniman Hebat Tak Cukup Hanya Berkarya, Mereka Juga Harus Paham Marketing

Standard

Dalam rangkaian pameran seni rupa kontemporer Beyond Imagination #2, komunitas Seniman Muda Indonesia (SEMUI) menggelar acara ngobrol santai bersama Syakieb Sungkar, seniman sekaligus kolektor seni. Diskusi yang dimoderatori oleh Ni Made Sri Andani dan M. Solech ini berlangsung di lantai 2 Jakarta Design Center dan menyedot antusiasme peserta sejak siang hingga sore hari.

Tema yang diangkat terasa relevan: seniman harus sadar marketing. Jika kita amati, masih banyak seniman yang hanya fokus berkarya, namun tidak memahami bagaimana memasarkan karyanya atau faktor apa yang membuat sebuah karya menarik di mata kolektor. Menurut Syakieb, di era sekarang, seniman tidak bisa lagi sepenuhnya berkarya tanpa mempertimbangkan pasar dan dinamika kapitalisme.

Syakieb mencontohkan bahwa banyak seniman besar, seperti Affandi, Leonardo da Vinci, Sunaryo dan lain lain, secara sadar atau tidak telah menerapkan strategi marketing. Ada yang membangun citra lewat relasi tokoh berpengaruh, menyesuaikan gaya dengan selera pasar, menerapkan price differentiation, bekerja dengan tim, hingga menggunakan two-horns strategy: satu karya untuk membangun positioning, karya lain untuk menopang kebutuhan ekonomi.

Menurut Syakieb, karya seni tidak lagi bisa diletakkan sebagai sesuatu yang ansich, melainkan sebagai produk. Pertanyaan krusialnya adalah: apakah karya kita sudah menarik pasar? Untuk menjawabnya, seniman perlu aktif mengunjungi pameran dan gallery, melakukan riset pasar, serta memahami karya apa yang diminati, tanpa harus menyontek. Data -data itu bisa menjadi referensi untuk menciptakan karya yang relevan sekaligus tetap otentik.

Pemahaman target pembeli juga menjadi kunci: usia, gender, kelas sosial ekonomi, hingga selera visual. Target anak muda tentu berbeda pendekatannya dengan kolektor mapan. Aspek harga dan ukuran karya pun harus disesuaikan, termasuk dengan ruang tinggal calon pembeli. Karya yang tepat sasaran akan lebih mudah diterima pasar.

Galeri memegang peranan penting sebagai gerbang masuk arus kapitalisme. Menurut Syakieb, selama karya belum masuk galeri komersial, berarti belum benar-benar masuk pasar. Galeri memahami selera kolektor dan menjadi barometer kelayakan jual sebuah karya.

Di sisi lain, seniman juga wajib melakukan promosi, minimal melalui artist statement dan media sosial.

Syakieb Sungkar dalam acara Ngobrol Bareng tentang Seniman Harus Sadar Marketing di JDC

Penjualan karya, pada akhirnya, sangat ditentukan oleh keseriusan seniman dalam menerapkan prinsip Product, Price, Place, dan Promotion (4P Marketing). Sertifikat keaslian dan asuransi dianggap bukan prioritas utama; Syakieb lebih menekankan pentingnya kepercayaan dalam ekosistem seni.

Diskusi juga menyentuh perubahan zaman. Jika dahulu seniman lebih sedikit namun dukungan teknologi terbatas, kini persaingan jauh lebih ketat, tetapi fasilitas dan teknik berkarya semakin maju. Syakieb optimis bahwa selalu ada ceruk untuk berkreasi, seperti musik yang hanya memiliki tujuh nada, namun terus melahirkan karya baru. Lukisan pun demikian: meski hanya berangkat dari lima warna dasar, kemungkinan penciptaannya tak pernah habis.

Melihat ekosistem seni Indonesia yang belum merata, Syakieb menilai pameran menjadi sarana pemasaran yang sangat penting, meski sayangnya tidak semua penyelenggara memiliki komitmen promosi yang kuat. Personal branding pun dibahas sebagai faktor krusial: karya sederhana sekalipun dapat bernilai tinggi jika senimannya memiliki citra yang kuat dan konsisten.

Acara ini dilengkapi dengan pandangan Tato Kastareja, Ketua SEMUI, yang mengajak seniman untuk terus berkarya dengan serius, mengikuti perkembangan zaman, dan menjaga kualitas.

Diskusi dua jam ini terasa padat, tajam, dan membuka wawasan, menegaskan bahwa di dunia seni hari ini, berkarya dengan hati harus berjalan seiring dengan kesadaran strategi marketing yang tinggi.

“Segenggam Kasih”  karya Rokhmat  Rizal di Pameran Beyond Imagination #2 di JDC

Standard
“Segenggam Kadih” karya Rokhmat Rizal di pameran Beyond Imagination#2. Sumber: R.Rizal

Kemarin sore saya kembali berkunjung ke pameran seni rupa kontemporer ” Beyond Imagination #2″ di Jakarta Design Center.  Tak bisan-bosan bermain ke sana karena ada banyak sekali karya-karya menarik yang dipamerkan di sana.

Diantara karya-karya seni itu saya melihat ada sebuah karya hitam putih yang menarik perhatian saya. Karya dari seniman Rokhmat Rizal, seniman dari Temanggung yang banyak menggunakan tinta pulpen dalam karya-karyanya.

Kali ini seniman yang selalu terlihat bersemangat ini kembali hadir dengan karya ink di kanvas (drawing) berukuran 150 x 200 cm  dengan judul “Segenggam Kasih”.

Saya tertarik melihat seorang bayi telanjang yang berada dalam sebuah tangan yang besar. Skala tangan yang monumental menciptakan kontras dramatis dengan tubuh bayi yang kecil, seolah mempertegas relasi antara kekuatan dan kelembutan.

Di belakangnya terlihat sebuah zipper yang terlihat seperti restluiting pakaian seorang ibu yang siap menyusui.

Lalu ada kesan alam semesta yang ditimbulkan oleh planet planet yang banyak. Elemen kosmik ini terasa memperluas ruang narasi, menghubungkan kelahiran manusia dengan semesta.

Di bagian bawah nampak gedung-gedung perkotaan. Kota di bagian bawah ini memberi landasan duniawi, seolah kehidupan manusia tumbuh di tengah-tengah peradaban manusia.

Menurut saya sebagai penonton, karya ini terasa menghadirkan metafora kuat tentang kasih Tuhan yang menyertai setiap kelahiran. Figur bayi yang tertidur dalam genggaman tangan raksasa, adalah representasi fisik, dan juga sekaligus simbol perlindungan ilahiah, kehadiran Yang Maha Kuasa yang tak terlihat namun nyata. Seperti kita tahu bersama, tangan menjadi ikon universal kasih sayang, sementara bayi merepresentasikan awal kehidupan yang rapuh, suci, dan penuh harapan.

Seperti diinformasikan di keterangan, lukisan ini dibuat dengan tinta (ballpen).
Saya membayangkan pengerjaannya yang repot dan pasti membutuhkan waktu lama mengerjakan lukusan sedetail ini.

Teknik ink yang kaya detail dan gradasi gelap-terang menciptakan ilusi ruang yang dalam, membawa mata saya sebagai penonton bergerak dari realitas menuju ranah spiritual. Ornamen yang diletakkan pada tangan menambah lapisan makna, seolah menyiratkan perjalanan spiritual dan kompleksitas penciptaan. Saya jadi teringat dengan karya-karya Rokhmat Rizal yang lainnya yang selalu sarat dengan muatan spiritual.

Rokhmat Rizal, seniman psncipta karya “Segenggam Kasih ” . Sumber R.Rizal.

Meski sepi warna, karya ini kaya rasa. Kelembutan bayi, kokohnya tangan, dan sunyinya ruang kosmik membangun suasana kontemplatif yang mengajak penonton merenung tentang asal-usul, perlindungan, dan makna kehidupan.

“Segenggam Kasih” adalah lukisan karya simbolik yang menarik bagi saya, baik dari sisi konsep dan cerita yang saya tangkap, maupun secara teknis kekaryaan. Sang seniman sukses memadukan realitas, spiritualitas, dan kosmos dalam satu visual yang utuh dan menarik, bahwa setiap kelahiran tidak pernah sendirian, selalu berada dalam genggaman kasih Tuhan.

Agar lebih jelas, yuk kita datang langsung ke pameran Beyond Imagination #2  di JDC yuk.  Selain lukisan ini, masih ada banyak karya-karya seni rupa yang luar biasa keren dipajang di sana. Pameran berlangsung hingga tanggal 30 Desember 2025.

Dance of Desire” Karya Agus Pisaro Widada di Pameran Beyond Imagination #2 di JDC

Standard
“Dance of Desire” karya seniman Agus Pisaro Widada di pameran Beyond Imagination #2 di JDC . Sumber Apisarow

Hi! Apakah sudah pada berkunjung ke pameran seni rupa kontemporer BEYOND IMAGINATION #2 di JDC?  Yang belum ayo berkunjung. Jangan sampai tidak update lho!.  Karena di sana ada banyak sekali karya-karya luar biasa dari para seniman Indonesia sedang dipamerkan di dua ruang pamer di lantai 2 itu.

Salah satu karya yang menarik perhatian saya sebagai salah satu pengunjung pameran adalah lukisan yang  berjudul “Dance of Desire” karya seniman Agus Pisaro Widada. Karya yang menggunakan media akrilik di kanvas berukuran 150 x 160 cm itu didisplay di pameran Beyond Imagination #2 di Jakarta Design Center (JDC) lantai 2, tepatnya di ruang pamer 10 (2SR10)

Karya ini sangat menarik. Memiliki komposisi yang kuat dan dinamis dengan fokus yang jelas di tengah kanvas, seekor kuda  berwarna merah kastanye sedang  berdiri mengangkat kaki depannya dengan bertumpu kuat pada kedua kaki belakangnya yang berdiri di atas sebuah batu besar berwarna hitam. Ya, penempatan kuda di pusat kanvas ini  menciptakan focal point yang tegas, memandu mata saya langsung menuju ke arah kuda yang menurut interpretasi saya merupakan simbol dari kekuatan, kebebasan dan dorongan hidup.

Namun ketika melihat ada 6 sosok di sekeliling kuda itu yang seperti sedang melakukan gerakan menari di atas batu-batu hitam, pikiran saya mulai melayang. Kuda di tengah yang penuh energi, gerakan penari yang seolah menggerakkan seluruh isi kanvas dan batu batu serta ruang kosong yang mengingatkan saya pada alam semesta.

Kesan gerakan energi dari tarian di kanvas ini entah mengapa mengingatkan
saya akan tarian Siwa Nataraja (Siwa Tandawa)  – alias the dance of Shiva, yang di Bali dikenal sebagai tarian kosmik  yang merepresentasikan  proses penciptaan, ekspansi dan penghancuran alam semesta. Di level mikrokosmik, tarian Siwa Nataraja ini juga melambangkan getaran energi di partikel sub atomik yang terus menerus bergerak dan menari.

Ah, tapi tentu itu pikiran saya saja sebagai penonton yang kebetulan memiliki latar belakang budaya Bali yang kental. Belum tentu pelukisnya bermaksud begitu.

Mungkin karena saya sangat terkesan dengan gerakan kuda yang sepertinya penuh energi.  Para penari yang tersebar di berbagai titik batu itu seperti membentuk pergerakan ritmis, memberikan kesan gerakan tarian yang terus berulang-ulang. Walau tata letak para penari ini asimetris, tapi tetap terasa seimbang, memberi nuansa ketidakpastian tapi tetap terarah selaras. Ada banyak batu-batu kecil di sekelilingnya.

Penggunaan warna kontras antara kuda berwarna merah kastanye dan batu-batu gelap memberikan tensi visual yang tinggi. Warna hangat pada kuda menghidupkan energi, hasrat, dan vitalitas; sementara warna kelabu pada batu terasa menyimbolkan beban serta kerasnya realitas hidup. Latar  belakang yang putih namun bertekstur dengan campuran warna pucat dan tone warna suram, entah mengapa terasa menciptakan suasana dingin yang merefleksikan beratnya perjalanan.

Apa sebetulnya yang ingin disampaikan oleh pelukisnya ? Saya melihatnya kembali dan mencoba menginterpretasikannya melalui elemen-elemen dan kesan-kesan yang saya tangkap dari lukisan itu.

Agus Pisaro W di depan karyanya bersama Heri Kris (seniman dan kuratot) di Beyond Imagination #2 di JDC

Menurut saya, kelihatannya lukisan ini seperti menceritakan upaya yang kuat untuk terus bergerak dan  berusaha mengalahkan suasana yang dingin dan penuh beban. Sebuah pencarian terhadap kebebasan dari penderitaan. Hmm. Maknanya terasa sangat dalam.

Saya melihat judul lukisannya “Dance of Desire”  dan tentu sebaiknya saya coba mendengarkan langsung dari senimannya yaitu Agus Pisaro tentang apa sih makna dari lukisan ini.

Agus Pisaro bersama keluarga di depan “Dance of Desire” di pameran “BEYOND IMAGINATION #2. Sumver Apusarow

Agus Pisaro bercerita kepada saya bahwa lukisan ini sebetulnya merupakan bagian dari serangkaian lukisan yang ia ciptakan belakangan ini ketika permasalahan dan beban hidup terasa menghimpit.  Belakangan ia merasa memiliki banyak permasalahan yang mengganggu pikirannya, ditambah dengan curhatan dari orang-orang sekelilingnya yang juga penuh dengan permasalahan, belum lagi orang tua yang sakit, ia merasa menghadapi beban yang berat. Namun ia tidak mau menyerah begitu saja.  Ia menyadari  bahwa ia tidak boleh diam, berhenti apalagi berputus asa. Ia memutuskan untuk terus bergerak untuk melampaui kecemasan dan kekhawatiran. Dorongan atau gerakan dalam diri untuk terlepas dari beban ini ia gambarkan seperti  kuda  yang penuh energi . Dan para penari itu adalah representasi dari usaha yang terus menerus dilakukan untuk mengatasi kerasnya kehidupan dan beratnya beban hidup yang ia lambangkan dengan batu-batu berwarna hitam kelabu itu.

“Kehidupan itu keras. Tidak selalu baik-baik saja. Yang baik-baik saja itu hanyalah harapan saja. Tetapi kita tidak harus menyerah dan menyalahkan keadaan”  katanya.

Saya memandang lukisan itu sekali lagi. Dan kini semakin jelas. Lukisan ini adalah sebuah pengingat kepada kita bahwa hidup itu tidaklah mudah, tetapi bukan berarti kita harus menyerah. Lukisan ini adalah pemberi semangat, bahwa seberat apapun beban hidup jika kita meletakkan semangat, usaha dan energi kita yang terbaik untuk mengatasinya, maka harapan untuk terbebas itu ada.

Seniman Agus Pisaro bersama istri di depan karyanya ” Dance of Desire” . Sumvet Apisarow.

Wah ! Luar biasa makna dari lukisan ini.

Keseluruhan karya menyatukan unsur gerak, simbolisme, dan komposisi yang lugas sehingga membangun narasi perjuangan hidup yang puitis sekaligus dramatis. Keren !!!

Ayuk teman-teman, kita berkunjung ke pameran Beyond Imagination #2 di JDC yuk. Masih banyak lagi karya-karya yang luar biasa dipamerkan di sana. Pameran masih berlangsung hingga tanggal 30 Desember 2025.

“Tanam Beton Cabut Pohon” Karya M.Solech di Pameran Beyond Imagination #2

Standard
“Tanam Beton Cabut Pohon” karya M Solech  yang fenomenal di pameran Beyond Imagination #2 di JDC. Sumber NMSAndani

Ketika mendengar pameran Beyond Imagination kita pasti teringat karya-karya seni spektakuler yang dibuat melampaui batasan standard seni rupa biasa.

Saya berkunjung ke pameran yang diselenggarakan JDC lt 2 dan menemukan banyak karya-karya yang luar biasa yang dipamerkan di situ. Salah satunya yang terasa sangat menarik  dan saya lihat setiap pengunjung pasti berhenti dan tertegun di depan lukisan 3 D yang berjudul “Tanam Beton Cabut Pohon”.  Sebuah karya yang luar biasa, mixed media berukuran 200 x 122 cm. Karya baru dari seniman M.Solech.

Karya ini mdnggambarkan dua orang utan ibu dan anak yang sedang panik di tengah bencana akibat perusakan dan pembakaran hutan, senentara di latar belakang tampak pembangunan besar-besaran sedang berlangsung dengan membabat dan menghancurkan hutan. Di latar belakang tampak gedung-gedung yang tinggi menjulang sedang dibangun. Papan proyek yang bertuliskan ” Progress”  lalu peralatan berat ekskavator sedang mengeruk tanah hutan lengkap dengan batang-batang pohon mati, yang sedang dipersiapkan untuk lahan pembangunan.


Lalu di latar depan pohon dan kayu-kayu mati yang sedang terbakar. Dan anak orang utan yang sangat ketakutan mencari perlindungan. Tampak sangat panik karena terpisah dengan induknya.  Ya Tuhan. Melihat ketakutan yang terpancar di mata anak orang utan ini sungguh terasa sangat mencekam. Api mulai menjalar.

Sementara di sisi lain induk orang utan tampak sangat panik berusaha menyelamatkan anaknya dari kobaran api yang menjalar membakar pohon pohon kayu . Di matanya terpancar kepanikan, kecemasan, kemarahan dan kesedihan yang bercampur aduk.  Sebagai seorang Ibu, saya jadi merasa ikut panik. Ikut nerasakan apa yang dirasakan oleh induk orang utan itu. Ya Tuhan, sedetik saja terlambat, mungkin ceritanya akan menjadi lain. Api mungkin akan memanggang anak orang utan yang tak bersalah itu.

Hutan yang dulunya adalah rumah mereka, kini dibabat habis dan bahkan dibakar demi yang namanya pembangunan. Pohon yang dulunya hijau royo-royo kini layu, mati atau bahkan dibabat habis. Tinggal puing-puing, batang dan ranting kering pohon yang rentan terhadap kebakaran.


Hutan ditebang dan dibakar. Lalu kemana perginya kini para penghuni hutan yang dulunya hidup tenang, aman , tentram dan damai? Kemana perginya burung-burung enggang, burung kuau dan orang utan?

Lukisan ” Tanam Beton Cabut Pohon”  karya M Solech ini berhasil membuat setiap penontonnya  tertegun, menyimak dengan perasaan dan pikiran dan menggugah kesadaran kita tentang keserakahan dan keegoisan manusia yang ingin mengangkangi dan menguasai bumi ini sendiri.

Karya-karya M. Solech selama ini saya kenal selalu memiliki konsep pemikiran yang kuat dan jelas serta memiliki kemampuan visual story telling yang luar biasa. Di karyanya yang ini, walaupun karyanya sendiri diam dan membisu, tetapi  kita bisa menangkap gejolak emosi yang terpancarkan lewat pancaran mata anak dan induk orang utan, seolah ikut mendengarkan deru dinamika pembangunan lewat lengan ekskavator , gedung yang menjulang dan papan proyek. Juga kita bisa menangkap alarm bahaya  lewat kobaran api dan permainan warna merah merona yang dipadukan dengan penggunaan lighting dari balik  kayu.


Lukisan ini mampu mengajak penonton untuk membuka mata. Betapa mengerikannya pembangunan yang tidak berpihak kepada alam.

Selain konsep dan pemikiran yang mendasari lukisan ini sangat kuat, M. Solech juga mengeksekusinya dengan sangat cerdas. Ia tidak membuat pemikiran ini menjadi karya lukisan 2 dimensi biasa, tetapi ia menggunakan mixed media termasuk batang, kulit kayu dan untuk orang utan saya pikir ia juga menggunakan bahan lain untuk membuatnya menjadi 3 dimensi.

Penggunaan cahaya  lampu  dari balik kayu membuat kesan kobaran api yang sangat drastis. Seolah real.

Secara keseluruhan, lukisan ini sangat mengesankan. Luar biasa!.


Terlebih ketika saat ini bencana alam, tanah longsor dan banjir  terjadi di mana-mana, lukisan yang sangat berpihak kepada pelestarian lungkungan hidup ini terasa sangat relevant. Sangat relevant srbagai pengingat bagi kita semua  untuk selalu menjaga alam kita dan hutan kita  baik-baik, bukan saja demi keberlangsungan mahluk yang ada di dalamnya saja , tetapi juga untuk kepentingan dan keselamatan kita manusia.

Sangat tertarik dengan lukisan ini, sayapun berusaha menghubungi senimannya M Solech. Saya bertanya, bagaimana ia bisa datang dengan ide brilliant ini.

Seniman M.Solech di depan karyanya “Tanam Beton Cabut Pohon” di pameran BEYOND IMAGINATION #2. Sumber MSolech

M Solech bercerita, bahwa inspirasi ini ia dapatkan ketika menonton sebuah cuplikan berita tentang pembangunan IKN di sebuah media. Di berita itu ia melihat seekor orang utan yang sangat kurus berjalan terseok-seok di kubangan lumpur  sebuah lahan yang habis dibuldozer. Ia merasa sangat kasihan sekali.

Kenapa ya pembangunan harus seperti itu? Mengapa orang utan ataupun penghuni hutan yang lain tidak dipindahkan dulu  sebelum hutannya dibabat untuk lahan pembangunan? Ia merasa sangat trenyuh akan situasi itu.  Hutan yang dulunya hijau royo royo, kini hancur.  Tak ada lagi tempat bagi orang utan untuk berlindung karena semuanya sudah diambil oleh manusia. Hal inilah yang menjadi inspirasinya dalam melukis ” Tanam Beton, Cabut Pohon” ini.

Dan kebetulan sekali, ketika lukisan ini jadi, bertepatan dengan bencana  tanah longsor dan banjir bandang di berbagai daerah yang banyak diantaranya dipicu oleh pembalakan liar hutan -hutan di Indonesia, mulai dari Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Bandung, Bali. Jika penebangan hutan ini dibiarkan maka bencana mungkin akan semakin meluas dan semakin tak terkendali.

“Tanam Beton, Cabut Pohon” adalah salah satu karya seni rupa yang dipajang di Contemporary Art Exhibition BEYOND IMAGINATION #2 di Jakarta Design Center lt 2, Slip Jakarta.


Yuk kita datang langsung ke pameran Beyond Imagination #2 di JDC yuk. Pameran masih berlangsung hingga tanggal 30 Desember 2025. Jangan sampai kurang update .

Catatan Perupa : Gate Gate Paragate

Standard
Lukisan “Gate Gate Paragate Parasamgate Bodhi Swaha” karya pelukis Ni Made Sri Andani dipamerkan di Kampoeng Semar , Borobudur, Magelang. Sumber: NMSAndani.

GATE-GATE PARAGATE PARASAMGATE BODHI SWAHA
Acrylic on canvas 50 x 50 cm

Catatan Perupa
Ni Made Sri Andani
Di bawah langit Magelang yang sunyi, saya menghadirkan sebuah perjalanan batin melalui lukisan ini : Gate-Gate Paragate.

Bulan purnama yang saya letakkan tepat di atas puncak-puncak stupa Borobudur adalah cahaya malam, yang juga merupakan cahaya keheningan, cahaya pencerahan.

Borobudur selalu menghadirkan rasa hormat sekaligus rasa kecilnya diri. Di tengah hamparan batu yang ditata oleh tangan dan jiwa nenek moyang, saya membayangkan hubungan tak terlihat antara bumi yang kita injak dengan ruang kosmik yang tak terbatas. Suatu harmoni yang melampaui bentuk dan waktu.

Di bawah sinar bulan, stupa-stupa itu tidak hanya menjadi bangunan, tetapi seakan menjadi jembatan, sebuah gerbang menuju pemahaman yang lebih dalam.

Mantra “Gate Gate Paragate Parasamgate Bodhi Swaha” bergaung dalam perenungan saya, perjalanan dari gerbang menuju gerbang, melampaui bentuk lahiriah menuju kesadaran yang lebih luas, lebih tenang, lebih terang. Itulah perjalanan batin yang ingin saya abadikan dalam lukisan ini.

Pelukis Ni Made Sri Andani di depan karyanya Gate Gate Paragate – di pameran seni rupa Rembulan di Atas Borobudur di Magelang. Sumber NMSAndani.

Saya persembahkan karya ini sebagai penghormatan kepada kebesaran Borobudur, kepada sejarah, keagungan spiritual, dan energi yang terus memancar tanpa suara. Semoga setiap pasang mata yang berhenti di hadapannya dapat menyentuh sebersit rasa kembali pulang, kepada hening, kepada cahaya, kepada perjalanan jiwa yang tidak pernah selesai.

Dipamerkan di Kampoeng Semar, Borobudur, Magelang.  7 hingga 30 Desember 2025 dalam paneran seni rupa ASPEN “Rembulan di Atas Borobudur”

Bupati Magelang Grengseng Pamudji di pameran ” Rembulan di Atas Borobudur”  di Kampoeng Semar, Magelang. Sumber NMSAndani.

Saya sangat berterimakasih kepada Bapak Grengseng Pamudji, Bupati Magelang yang telah berkenan meluangkan waktu menatap lukisan saya ini.

#lukisan #pameranlukisan #art #borobudur #magelang #gategateparagate #rembulandiatasborobudur #kampoengsemar #andanimelukis #Ni Made Sri Andani

Menemukan Bali Purba Lewat Lukisan Barong Brutuk

Standard
Lukisan ” Barong Brutuk” karya Ni Made Sri Andani.

Catatan Perupa: “Barong Brutuk”

Ada sesuatu yang selalu membuat hati saya bergetar ketika berbicara tentang Bali yang purba. Tentang warisan budaya yang lahir jauh sebelum semua menjadi ramai dan modern seperti sekarang. Salah satunya adalah Barong Brutuk, pertunjukan kuno dan sakral yang hanya ada di Desa Trunyan, di tepi Danau Batur yang sunyi dan magis. Dipentaskan setiap 2 tahun sekali, saat prlurnama kapat di Pura Pancering Jagat.


Topeng-topeng tuanya, ada sekitar 21-23, tampak sederhana, tapi menyimpan daya spiritual yang begitu kuat. Para penarinya mengenakan busana dari daun pisang kering, bergerak dalam irama yang terasa seperti doa yang hidup. Tarian ini diyakini bisa menyembuhkan dan menyeimbangkan alam, sesuatu yang saya rasa sangat relevan dengan dunia kita sekarang yang sering kehilangan keseimbangannya.

Saat mulai melukis Barong Brutuk, saya tak hanya berusaha meniru bentuk atau warnanya saja. Saya mencoba menangkap napas kehidupan dan energi sakralnya,  keheningan Trunyan, udara dingin Kintamani, dan getaran magis yang seolah melingkupi setiap gerakan sang penari.

Lukisan ini lahir dari rasa kagum sekaligus kerinduan saya pada Bali yang dalam, Bali yang masih menyatu dengan alam dan keyakinan leluhur. 

Melalui karya ini, saya ingin anak-anak muda Bali bisa melihat dan mengenal kembali warisan mereka, bukan hanya lewat upacara, tapi juga melalui karya seni yang bisa mereka rasakan di hati.

Saya juga ingin menyampaikan terima kasih kepada adik saya  Gede Partha Wijaya, fotografer yang karyanya menginspirasi saya. Dari hasil jepretannya, saya bisa merasakan dedikasi yang luar biasa. semangat untuk menjaga agar budaya kita tidak hilang ditelan waktu.

Lukisan Barong Brutuk ini, saat ini sedang dipamerkan di Perpustakaan Nasional hingga tanggal 10 November 2025.

“Tapak Merdeka”, Pameran Tunggal Kembang Sepatu

Standard
Saya dan beberapa kawan pelukis ASPEN di pembukaan pameran tunggal Kembang Sepatu di Amuya Gallery. Foto NMSAndani

Hari Jumat lalu, seusai menghadiri acara pembukaan Springhill Art Exhibition, saya lanjut menghadiri pembukaan pameran tunggal seniman Kembang Sepatu, di Amuya Gallery, Kemayoran, Jakarta.

Pameran yang dikuratori oleh A.Dimas Aji Saka dan melibatkan sekitar 43 buah lukisan ini bertajuk ” TAPAK MERDEKA” yang jika kita interpretasikan adalah jejak perjalanan sang seniman Kembang Sepatu di dunia seni lukis yang bebas merdeka tidak terikat pada kaidah-kaidah tertentu yang harus membelenggu kreatifitasnya dalam berkarya.

Kembang Sepatu yang dikenal sebagai Ketua Umum Asosiasi Pelukis Nusantara (ASPEN), selain memiliki kekuatan managerial dalam menyelenggarakan berbagai pameran lukisan dan memiliki network yang sangat baik, adalah seorang seniman dengan karya-karya yang sangat membumi. Berkisah tentang hal-hal atau benda-benda sehari-hari yang sepintas tampak simpel namun dibaliknya menyimpan segudang cerita yang ia ungkapkan dalam bentuk visual kontemporer yang sangat menarik untuk disimak. Walhasil jika kita mengamati lukisan-lukisannya, semua sarat dengan makna yang dalam.

Janji Suci, karya Kembang Sepatu di Amuya Gallery  yang membuat kita merenungi makna dari kesepakatan perjalan sepasang manusia.

Ada suatu masa ia bercerita tentang berbagai kisah yang diwakili oleh Sandal Jepit. Mulai dari kisah sepasang sendal jepit yang ia beri judul Janji Suci. Melihat lukisan ini membuat kira jadi merenung, tentu saja bukan merenungi sendal jepitnya, tetapi merenungi makna dari janji suci sepasang manusia yang seia sekata bersepakat untuk mengarungi perjalanan hidup berdua hingga waktunya tiba harus memisahkannya. Sungguh mengharukan.

Lalu ada lagi lukisan yang menunjukkan sepasang sendal jepit berjalan ke satu arah, sementara tampak selembar uang ratusan berjalan menuju arah yang berlawanan. Wk wk wk.. lukisan yang berjudul “Bersimpang Jalan” ini sungguh sukses mewakili perasaan banyak orang saat ini 🤣🤣🤣

Seniman Kembang Sepatu di depan karyanya “Bersimpang Jalan” di Amuya Gallery. Foto NMSAndani

Lukisan lain tentang sandal jepit adalah lukisan yang berkisah tentang penyu laut yang terbelenggu oleh jaring nelayan sementara di paruhnya tersangkut sandal jepit yang putus. Sangat mengenaskan. Tapi lukisan ini menggambarkan realita kehidupan dimana sampah dan keserakahan manusia mengancam kedamaian mahluk hidup lain di sekitar kita, termasuk biota laut.

Masih banyak lagi lukisan-lukisan Kembang Sepatu yang menggunakan Sendal Jepit sebagai metafora yang mewakili ide dan gagasannya.

Sebagian dari lukisan Kembang Sepatu di pameran “Tapak Merdeka” di Amuya Gallery

Tetapi jika disimak lebih jauh, lukisan Kembang Sepatu sebenarnya tidak melulu tentang Sendal Jepit. Banyak karyanya yang bercerita tentang hal-hal lain dan menggunakan benda lain sebagai obyek lukisannya. Misalnya ada lukisan yang berkisah tentang Kolo Bendu, Hanuman, para ksatria Nusantara, cangkul, sepeda dan lain sebagainya. Semuanya membawa kisahnya masing-masing yang menarik untuk disimak. Jadi kita memang harus datang langsung ke pameran untuk dapat melihat lukisan-lukisannya yang sarat makna dan menikmati cerita yang disampaikan dengan artistik secara visual.

Sebagian dari karya Kembang Sepatu di pameran Tapak Merdeka di Amuya Gallery.

Pameran ini juga diselenggarakan sebagai kado ulang tahunnya yang ke 53 bulan Oktober ini dan sekaligus menjadi perenungan atas perjalanannya , dedikasinya dan konsistensinya di dunia seni rupa. Sungguh keren.

Satu hal yang sangat saya kagumi dari kekaryaan Kembang Sepatu adalah jejak-jejaknya yang konsisten, tak mudah menyerah seperti yang ia sendiri perlambangkan sebagai sebuah perjalanan sandal jepit.

Pemeran tunggal Tapak Merdeka ini dibuka oleh Dr Dadam Mahdar S.Sos., M.Hum, Direktur Seni Rupa dan Seni Pertunjukan Kementerian Ekonomi Kreatif Republik Indonesia dan dihadiri oleh para seniman yang bergabubg dalam Asosuasi Pelukus Nusantara (ASPEN) dan tamu undangan lainnya.

Kembang sepatu dan keluarga bersama Bpk Dadam Mahdar dari Kementrian Ekonomi Kreatif di Amuya Gallery.

Tampak diantara hadirin keluarga sang seniman, istri dan putra putrinya yang tampak sangat mendukung kegiatan keluarganya. Bahkan di acara pembukaan pameran ini, Indira putrinya yang cantik mempersembahkan sebuah tarian yang berjudul Cupang Ngibing yang sangat indah.

Ayo teman teman, kita berkunjung ke Amuya Gallery untuk melihat pameran lukisan ” Tapak Merdeka ” ini secara langsung. Pameran berlangsung hingga tanggal 26 Oktober 2026.

Novandi dan Keajaiban Hidup dalam Pameran Tunggal “MIRACLE” di Galeri Darmin Kopi

Standard
Suasana pembukaan paneran tunggal Novandi yang ke 6 “MIRACLE” di Galeri Darmin Kopi. Foto NMSAndani

Seniman Novandi menggelar pameran tunggalnya yang ke 6 di Galeri Darmin Kopi, di Duren Tiga, Jakarta Selatan dari tanggal 6 -17 September 2025.

Pameran yang berjudul ” MIRACLE” ini, menurut saya sangat unik dan menarik, membuat kita jadi ikut merenungi kehidupan dan kesehatan kita serta keajaiban yang mungkin saja terjadi atas kehendakNYA jika kita berusaha mencapainya.

Salah satu lukisan Novandi yang digelar di Galeri Darmin Kopi . Foto NMSAndani

Miracle adalah thema yang ia pilih untuk menggambarkan perjalanan kesehatannya  dalam memperoleh kesembuhan yang sangat ajaib yang merupakan angerahNYA. 

Ia menggambarkan perjalanan ini mulai dari kebiasaannya yang buruk, suka makan tidak kontrol dan minum yang manis-manis  yang ia gambarkan sebagai ulat yang rakus memakani dedaunan tebu dengan lahap . Sebuah metaphora yang sangat sesuai.  Begitulah asal muasalnya. kena sakit gegara terlalu banyak mengkonsumsi makanan dan minuman yang berkadar gula tinggi. Demikian juga ia sering makan apa saja tanpa memikirkan waktu dan kadang berlebihan yang akhirnya memicunya terkena gagal ginjal dan terpaksa melakukan dialisis. Apalagi di luar itu ia juga memiliki hobby ‘touring’ lintas kota, lintas pulau  yang membuatnya sangat kelelahan.

Pembukaan pameran tunggal Novandi yang ke 6 ” MIRACLE”. Foto: Retno Pamerdasih

Saat-saat sakit inilah ia mengalami sebuah pengalaman, seolah sedang berjalan menuju gelap dalam rintik hujan yang membuatnya meracau.  Tetapi dukungan semangat dan kunjungan para sahabat dan keluarga membuatnya  bahagia.

Demikian juga ketika bertemu seorang Ibu yang berhasil sembuh dati gagal ginjal, memberinya harapan bahwa ia pun akan bisa sembuh. Ia berusaha menjalani anjuran dokter. Dengan harapan dan semangat yang ia miliki, serta dukungan kawan kawan serta istri tercinta, dan hati yang penuh syukur dan doa, akhirnya ia dinyatakan sehat kembali.

Para perupa KOMPPI berfoto bersama pelukis NOVANDI di pembukaan pameran MIRACLE. Foto NMSAndani

Sungguh ini sebuah muzizat. Sebuah keajaiban yang luar biasa. Pengalaman inilah yang ia tuangkan ke dalam 18 lukisan yang dipamerkan di Galeri Darmin Kopi ini yang pembukaannya dilakukan pada tanggal 6 September 2025.

Pelukis NOVANDI di pembukaan pameran tunggalnya MIRACLE, 6 September 2025. Foto Ni Made Sri Andani

Selain kisah luarbiasa yang menginspirasi  thema pameran ini, lukisan-lukisan yang disajikan  juga sungguh luarbiasa dengan menggunakan ulat, kepompong dan kupu-kupu sebagai perumpamaan dengan didominasi oleh lukisan berbagai macan ragam kupu-kupu dalam nuansa lukisan warna natural hijau, kuning, coklat, merah yang lembut dan hangat. 

Yuk teman-teman, kita mampir ke Galeri Darmin Kopi, Jalan Duren Tiga Raya no 7E, Jakarta Selatan.

Pembukaan pameran dilakukan oleh dr Monita Lubis SpPD dan dikuratori oleh Fx Jeffrey Sumampouw dan dihadiri  banyak pelukis  dari berbagai komunitas, seperti Segitiga Art, ASPEN, KOMPI, KOMPPI, GARAJAS, PERUJA.

Empat Lukisan Sold Out di Hari Pembukaan

Standard

Kolaborasi Spirit Kemerdekaan, Empat Lukisan Laku Terjual

BES Gallery yang berada di lantai basement Glodok Plaza kembali semarak di bulan Agustus ini. Bersama GupeNusa, galeri ini menghadirkan pameran seni rupa bertema “Kolaborasi Spirit Kemerdekaan”, berlangsung dari 25–31 Agustus 2025.

Kevin Wu membuka pameran seni lukis GupeNusa “Kolaborasi Spirit Kenerdekasn” di BES Gallery, 26 Agustus 2025


Walau karya sudah terpajang sebelumnya, acara pembukaan resmi baru digelar pada 26 Agustus 2025. Kehadiran Kevin Wu, anggota DPRD DKI Jakarta, memberi warna tersendiri dalam peresmian yang juga dihadiri manajemen Glodok Plaza, pihak BES Gallery, GupeNusa, para seniman, serta tamu undangan.


Dalam sambutannya, Kevin Wu menekankan pentingnya mempertemukan seniman dengan pasar. Menurutnya, hidup seniman tidak hanya soal ekspresi dan jiwa, tapi juga soal kesejahteraan. Ia pun berbagi sedikit pengalaman, ketika masih aktif di dunia bisnis dan pernah menjadi pengurus pusat Kadin Indonesia di bidang industri kreatif. Dari sanalah ia paham bahwa seni rupa merupakan salah satu sub-sektor yang punya potensi besar, namun kerap terkendala pemasaran.

Kevin Wu pun menyatakan siap berkolaborasi, sejalan dengan semangat pameran kali ini. Ia melihat keterlibatan 64 pelukis dari Jabodetabek hingga berbagai daerah adalah bukti bahwa kolaborasi nyata bisa terjadi. Tidak hanya dengan pengelola tempat seperti Glodok Plaza, tetapi juga perlu diperkuat dengan dukungan pemerintah dan pasar.


“Banyak seniman yang punya nilai, rasa, dan teknik luar biasa, tapi karyanya tidak sampai ke konsumen karena tidak terkoneksi dengan pasar. Dengan pengalaman saya di bisnis dan manajemen, saya ingin mengisi ruang kosong itu agar karya seniman lebih dipahami dan dihargai, terutama oleh generasi muda,” ujar Kevin Wu.

Tak hanya memberi sambutan, Kevin Wu juga meluangkan waktu hingga pukul 19.00 untuk berbincang langsung dengan para seniman. Ia mendengarkan keluhan, berbagi pandangan, sekaligus memberi gagasan awal tentang strategi pemasaran karya seni. Momen itu terasa hangat, menunjukkan bagaimana wakil rakyat seharusnya hadir: berdialog, mendengar, dan memahami aspirasi rakyat, termasuk para pelaku seni.


Acara pembukaan berjalan sederhana namun penuh makna, diisi dengan pembacaan puisi dan lagu. Yang lebih menggembirakan, menurut Eddy Kamal selaku ketua panitia, empat lukisan langsung sold out di hari pertama pameran.


“Ini kabar baik bagi para seniman dan juga penyemangat bagi kami semua,” ujar Eddy.

Penulis (Ni Made Sri Andani) berfoto bersama Kevin Wu di depan lukisannya.


Sebagai informasi, pameran ini diikuti 64 perupa: Aang Jamhari, Abdilah, Adjar Utomo, Ambarsari S, Ani Hasan, Adlianto Zaman, Andi Suandi, Anwar Sanusi, Ar Sudarto, Aryo Bimi, Ayu Sasmita, Baem Ibrahim, Broto Jodho, Budi Karmanto, Budi Utomo, Carsila, Cikal Wijaya, Chrysnanda Dwi Laksana, Dick Syahrir, Dicksy Iskandar, Didiet Kadito, Eddy Kamal, Ebit S, Elfri Damayanti, Fanny J Poyk, Gini, Giok Eng, Gladys Raintama, Guff Tawakal, Heriana, Intan Tresnani, Irma Citra Gayatri, Jay, Kedsu, Kinogobu, M. Sobirin, Mukhlis Sahar, Muzlifah Wahidin, Nina Karenina, Ni Made Sri Andani, Nugee Sketch, Pandi, Pustanto, Ridwan Marhid, Sanspyro, Shamady Nura, Simon Ambarawa, Siswanti, Slamet Riyadi, Tukiyan, Tyo, Tom Junior 87, Wayan Sudana, Wildani KF, Willy Styono, Wong Jojo, Yen Iskandar, Yulius Bernadi, Yuni Daud, Yunindar, Yunus Jubair, Yusuf Dwiyono, dan Yustina Pagho Patty.


Pameran “Kolaborasi Spirit Kemerdekaan” masih berlangsung hingga 31 Agustus 2025 di BES Gallery, Glodok Plaza. Jangan lewatkan kesempatan untuk menikmati karya-karya penuh semangat kemerdekaan dari para seniman terbaik tanah air.

Sebagian dari seniman yg ikut berpameran “Kolaborasi Spirit Kenerdekaan”  di BES Gallery.